Jempol Polisi Bongkar Kasus Daging Sapi Palsu, Akmal Dorong Pemerintah Sisir Wilayah 

BONEPOS.COM, JAKARTA - Anggota Komisi IV DPR RI, Andi Akmal Pasluddin mengapresiasi kinerja pihak kepolisian Bandung yang berhasil membongkar beredarnya daging babi menyerupai daging sapi yang beredar di pasar.

Beredarnya daging sapi palsu yang sebenarnya daging babi ini sudah beredar selama satu tahun, mesti menjadi perhatian keras pihak pemerintah. Aksi model seperti ini boleh jadi telah menyebar ke wilayah-wilayah Indonesia.

"Saya sangat menyayangkan model manipulasi produk pangan seperti ini. Selain melakukan penipuan, perilaku manipulasi daging babi menjadi daging sapi ini akan mencederai ideologi umat Islam. Inilah fungsi satgas pangan yang telah dibentuk, selain mencegah kartel, juga mencegah penipuan model begini," tegas Akmal.

Legislator asal Sulawesi Selatan II ini menuturkan, memang saat ini daging sapi sedang langka. Awal tahun 2020 ini, kebutuhan impor daging sapi mencapai 300 ribu ton untuk memenuhi permintaan daging nasional.

Namun kondisi wabah seperti ini, masyarakat dapat memahami untuk tidak memaksakan konsumsi daging sapi dan mengubahnya ke konsumsi daging ayam.

Dengan kondisi daging ayam yang rusak harganya, akan ada solusi untuk masyarakat akan kebutuhan daging dan pelaku usaha ayam yang membaik harganya.

Namun kondisi kekurangan daging yang dimanfaatkan oleh segelintir pihak, mesti ditindak lanjuti secara serius dan tegas untuk menyisir pasar-pasar di seluruh Indonesia agar tidak ada kejadian yang melakukan tindakan serupa.

"Pelaku penipuan daging sapi palsu yang berasal dari daging babi, biasanya didistribusi ke pasar-pasar tradisional. Selain masyarakat mesti waspada dengan apa yang akan dibeli, campur tangan pemerintah untuk bergerak ke seluruh wilayah Indonesia mesti dilakukan. Apalagi ini menjelang moment Idulfitri, pasti kebutuhan daging meningkat," ujar Akmal.

Seiring dengan kejadian daging babi mirip daging sapi, Politikus PKS ini meminta kepada Kementan untuk segera merealisasi pemenuhan daging sapi dari dalam negeri.

300 ribu ton daging sapi ini setara dengan 1,3 juta sampai dengan 1,7 juta ekor sapi. Ini merupakan pekerjaan rumah Kementan yang dari dulu hingga sekarang tidak kunjung selesai. Padahal negara kita memiliki kemampuan sumber daya alam yang memadai.

"Saya minta pemerintah serius mengurusi pangan rakyat ini. Serius berpikir memenuhi kebutuhan yang sumbernya dari dalam negeri, bukan cari yang mudah dengan membuka kran impor. Mengurusi negara kita ini, jangan juga seperti mengurusi perusahaan. Karena perilaku impor pangan ini hanya menguntungkan segelintir oknum, dan merusak hajat hidup sebagian rakyat Indonesia," kunci Akmal. (ril)