Opini: Ketahanan Keluarga dalam Pandemi Pasca Ramadan

Ilustrasi

Ramadan tahun ini bertepatan dengan sebuah kondisi di mana sebuah wabah penyakit sedang menyerang penduduk di seantero bumi. Situasi seperti ini disebut sebagai pandemi. Sejak bulan Desember, awal mula virus Covid-19 ini muncul di publik, tidak banyak para ahli yang memprediksi bahwa kejadian yang bermula di kota Wuhan, China itu akan menjadi sebuah pandemi seperti saat ini.

Kemunculan virus yang tiba-tiba ini membuat warga di seluruh dunia tidaklah memiliki waktu yang cukup untuk mempersiapkan pertahanan maksimal. Terbukti, dari 193 negara yang tergabung dalam PBB ada 178 negara yang melaporkan kasus Covid-19 dan hanya 15 negara yang tidak melaporkan adanya kasus Covid-19 di negara mereka. Indikasinya adalah 15 negara tersebut murni tidak tersentuh virus mutakhir ini, atau mereka menutupi kepada dunia tentang warganya yang sebetulnya sudah ada yang terinfeksi virus Covid-19.

Hingga bulan Mei 2020, berdasarkan data yang dirilis John Hopkins University secara global jumlah kasus positif Covid-19 berjumlah 5,2 juta kasus dengan total kasus meninggal sejumlah 338.447 jiwa. Jumlah ini menurut mereka akan terus meningkat. Amerika menjadi negara dengan kasus Covid-19 tertinggi di dunia, disusul oleh Inggris dan Italia berada di posisi ketiga.

Di Indonesia, per 23 Mei 2020 berdasarkan data yang dirilis covid19.go.id tercatat 21.745 kasus positiv dengan jumlah total kematian 1.351 dan 5.249 kasus dinyatakan sembuh. Sekali lagi, jumlah ini akan terus bertambah hingga waktu yang masih sulit diprediksi.

Dalam kondisi pandemi ini, hadir di tengah-tengah kita sebuah bulan yang selalu dinanti oleh umat Muslim di seluruh dunia. Bulan pernuh rahmat dan ampunan, yaitu bulan Ramadan. Tahun ini menjadi istimewa karena Ramadan bertepatan dengan situasi luar biasa yang kehadirannya cukup untuk mengubah iklim “kenormalan” manusia pada umumnya.

Upaya pemerintah dalam pencegahan Covid-19 adalah dengan memaksimalkan program PSBB (Pembatasan Sosial Berskala Besar) yang salah satu turunannya adalah program #dirumahsaja.

Program ini berimbas sangat banyak di segala sektor, khususnya di lingkup keluarga. Selama Ramadan, pemerintah mengimbau agar kegiatan ibadah seluruhnya dilakukan di dalam rumah. Tidak ada salat tarawih di masjid, tidak ada kajian sebelum berbuka dengan jamaah membludak, bahkan di hari kesepuluh terkahir Ramadan tidak ada iktikaf di masjid-masjid. Puncaknya, salat id pun dihimbau untuk digelar di rumah masing-masing. Pemerintah dalam hal ini MUI, bersinegeri sangat baik dengan Muhammadiyah, Nahdatul Ulama dan organisasi keagamaan lainnya.

Melalui sudut pandang keluarga, pandemi di bulan Ramadan ini menyimpan banyak sekali hikmah dan pelajaran tentang ketahanan keluarga. Di bulan ini Allah SWT seolah hendak memberi kita ujian berlipat ganda yang tidak bisa kita selesaikan sendirian. Hadirnya keluarga adalah sebagai senjata sekaligus perisai bagi kita untuk berjuang dan bertahan dari musibah secara bersama-sama.

Seorang suami memiliki porsi peran yang cukup besar dalam sistem keluarga. Dalam status sosial, suami ibarat nahkoda yang bertanggung jawab ke mana kapal akan berlayar. Begitu pula dalam perspektif Islam, suami adalah Imam yang harus mampu membimbing, mengarahkan, dan menjaga stabilitas keluarga agar senantiasa berada dalam rahmat Allah SWT.

Menjadi imam salat wajib dan tarawih, membimbing baca alquran, memberi tausiyah, adalah hal-hal yang melekat dalam diri suami sebagai imam dan kepala keluarga.

Selain suami, isteri dan anak juga berperan penting untuk menopang pondasi rumahtangga yang sudah dibangun. Seorang isteri wajib mengerti kewajiban apa yang harus ia tunaikan dalam keluarga. Situasi pandemi lagi-lagi memaksa seseorang untuk senantiasa kreatif dalam menjalani kehidupan normal yang baru.

Setidaknya, Ramadan di tengah pandemi ini menumbuhkan banyak sekali hikmah yang bisa diambil. Menjadi sebuah pelajaran yang sangat berarti ketika seorang kepala keluarga masih ragu dan merasa kurang layak ketika menjadi imam salat.

Bagi yang tercerahkan, pasca Ramadan ini tentu akan senantiasa berusaha menjadi lebih baik lagi dengan giat belajar dan banyak bersyukur. Belajar terhadap hal-hal yang dirasa masih kurang, dan bersyukur karena memiliki keluarga yang senantiasa mendukung dalam kebaikan.

Orangtua adalah panutan bagi buah hatinya. Di bulan tarbiyah yang baru saja kita lalui ini, segala hal yang bersifat ukhrowi haruslah kita dahulukan. Bersyukur dengan hadirnya puasa di tengah pandemi menjadikan kita hamba yang lebih sabar dan tabah dalam menghadapi musibah. Dengan berpuasa, kita akan lebih bersyukur atas segala pemberian dari Tuhan, berapapun jumlahnya, apapun jenisnya.

Ketahanan keluarga juga perlu dibangun dengan keterbukaan dan kejujuran. Demi menumbuhkan keluarga yang harmonis, ketebukaan dan komunikasi aktif adalah hal mutlak yang harus ada. Dengan kejujuran dan keterbukaan antar keluarga, masing-masing bisa melakukan evaluasi diri. Adanya evaluasi akan membentuk keluarga menjadi lebih baik lagi.

Akhirnya, memasuki bulan Syawal ini marilah kita semua sebagai umat Islam saling introspeksi diri bagaimana bulan Ramadan ini telah kita lalui. Akankah kita menjadi hamba yang hanya mendapatkan rasa lapar dan dahaga saja? Atau puasa yang kita kerjakan menjadi sarana untuk lebih meningkatkan ketahanan keluarga kita atas segala musibah dan cobaan yang tak pernah kita tahu kapan usainya. Wallahu ‘alam.

Penulis:

Wildan Kurniawan
Mahasiswa Pascasarjana Hukum Keluarga Islam UIN Sunan Kalijaga.