[CEK FAKTA] Soal Surat MUI Berisi Seruan Agar Ulama Tolak Tes Covid-19

BONEPOS.COM - Foto selembar surat dengan kop Majelis Ulama Indonesia (MUI) yang ditujukan kepada seluruh ulama dan kiai di pelosok nusantara agar berhati-hati dengan rencana Rapid Test Covid-19, berdedar di grup-grup WhatsAPP, Senin (25/5/2020).

Dalam surat tersebut menyebutkan bahwa rapid test adalah modus operandi PKI atas perintah negara komunis Cina untuk menghabisi para tokoh agama Islam baik di Indonesia maupun negara muslim lain.

Dalam surat itu juga menyinggung peristiwa 1948 dan 1965, dengan menyebut bahwa para tokoh agama Islam sering ditipu oleh PKI.

Menurut pembuat seruan, jika para ulama melakukan rapid test dan hasilnya positif, maka akan dikarantina kemudian disuntik racun dengan dalih pengobatan.

Tidak hanya itu, dalam surat tersebut juga diserukan kepada para ulama dan kiai untuk melawan dan para orangtua diminta menolak jika pemerintah akan melakukan imunisasi Corona terhadap anak-anak.

Berikut Foto Surat Berkop MUI tersebut :

Apakah surat tersebut dikeluarkan oleh MUI ?

Penelusuran Fakta :

Tim Cek Fakta Bonepos.com pun menelusuri kebenaran atas foto surat tersebut melalui mesin pencari Google Search dengan kata kunci "Beredar Surat MUI".

Alhasil ditemukan sebuah artikel berita yang dimuat media siber Liputan6.com dengan judul "MUI Pastikan Surat Berisi Seruan Agar Ulama Tolak Tes Covid-19 Hoaks"

Dalam berita tersebut, MUI menegaskan tidak pernah mengeluarkan seruan agar ulama, kiai, dan ustaz di Indonesia menolak rapid test Covid-19.

Wakil ketua MUI Zainut Tauhid menjelaskan bahwa pihaknya tidak pernah mengeluarkan pengumuman tersebut dan menegaskan jika seruan tersebut adalah hoaks atau berita bohong.

"Itu pasti hoaks, karena MUI tidak pernah mengeluarkan pemberitahuan seperti itu," kata Zainut saat dihubungi merdeka.com, Minggu (24/5/2020).

Selain itu, Zinut juga menyebutkan, bahwa dalam surat tersebut juga tidak sesuai dengan kop standar MUI. Serta tutur bahasanya pun kata dia, tidak sesuai standar MUI.

"Dari kop surat dan isi pemberitahuannya tidak sesuai standar MUI," tegas Zainut.

Untuk dikethaui, liputan6.com merupakan media terverifikasi Jaringan Periksa Fakta Internasional atau International Fact Checking Network (IFCN) bersama puluhan media massa lainnya di seluruh dunia.

Kesimpulan

Dari penjelasan MUI diatas, dipastikan bahwa berita yang beredar terebut adalah [Salah] hoaks alias tidak benar.

Untuk itu, masyarakat diminta tidak mudah percaya dengan berita-berita yang beredar. Pastikan sebelum menshare berita, pastikan berita itu berasal dari sumber terpercaya, sehingga bisa di pertanggungjawabkan kebenarannya.