OPINI: Paradigma New Normal di Masyarakat

Pemerintah, melalui juru bicara Penanganan Covid-19 Ahmad Yurianto menegaskan bahwa masyarakat perlu memiliki paradigma baru guna mengantisipasi Covid-19 berkepanjangan. Menurut Yuri, kita dan penduduk bumi lainnya akan sulit untuk kembali ke kondisi dan kehidupan normal seperti sebelum munculnya Covid-19.

Pernyataan yang disampaikan oleh pemerintah melalui Ahmad Yurianto di atas perlu rasanya kita renungkan lebih jauh. Dalam pandemi ini fokus kita adalah bagaimana menjaga stabilitas diri, keluarga, dan orang-orang terdekat supaya mampu bertahan di tengah gelombang Covid-19 ini.

Menjadi istimewa karena di tengah riuhnya kasus Covid-19 yang semakin meningkat, muncul pandangan-pandangan yang disadari atau tidak justru melemahkan dan memecah konsentrasi publik terhadap kasus Covid-19. Ada yang menganggap bahwa kasus ini merupakan konspirasi elite global yang datang demi meraih keuntungan melangit.

Konspirasi atau tidak, nyatanya virus Covid-19 saat ini berada tepat di depan mata kita. Bahkan mungkin sudah menempel di hidung, atau jari-jari kita. Jumlah pasien yang positif, meninggal, dan sembuh sudah jelas. Dalam hal ini, yang bisa kita lakukan adalah berjuang bersama untuk menekan serendah-rendahnya angka penyebaran dengan mematuhi anjuran pemerintah.

Sejak diumumkan kasus pertama Covid-19 oleh presiden Joko Widodo, beberapa aturan pun mulai diterapkan. Gerakan cuci tangan memakai sabun, menggunakan masker saat keluar rumah, menghindari kerumunan, menjaga jarak saat di ruang publik, semuanya seolah menjelma menjadi sebuah kebiasaan baru yang setiap orang dituntut untuk menjalankannya.

Ketua Tim Pakar Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 Wiku Adisasmita mengatakan, new normal merupakan perubahan perilaku untuk tetap menjalankan aktivitas seperti biasanya namun ditambah dengan menerapkan protokol kesehatan guna mencegah terjadinya penularan Covid-19.

Ketika perubahan perilaku ini terus berlanjut dengan periode yang tidak sebentar dan diterima oleh sebagian besar masyarakat, maka perubahan tersebut menjadi sesuatu yang dianggap normal. New normal juga dapat berarti melakukan suatu aktivitas normal dengan pertimbangan tidak tertular atau menularkan Covid-19 kepada orang lain.

Melihat hal ini, munculnya kenormalan baru di berbagai sektor menjadi sebuah keniscayaan. Salah satu contohnya adalah orang-orang semakin baik beradaptasi dalam penggunaan medium teknologi. Kegiatan seminar, rapat, diskusi publik, beberapa waktu belakangan bisa dilakukan dengan begitu mudahnya secara virtual tanpa mengurangi esensi tujuan kegiatan tersebut.

Di belahan dunia lain, perusahaan teknologi raksasa (Giant Tech) mulai melakukan penyesuaian sebab munculnya Covid-19. Google misalnya, memberikan pilihan kepada karyawannya untuk bekerja dari rumah sampai akhir tahun. Microsoft dan Amazon memberi opsi untuk bekerja dari rumah sampai akhir Oktober kepada sebagian besar karyawannya. Dan beberapa perusahaan lain seperti Facebook, Twitter, Spotify, yang bergerak dengan mengandalkan medium teknologi melakukan hal serupa.

Selain itu penggunaan aplikasi belanja juga menjadi sebuah kenormalan baru di tengah pandemi. ADA Indonesia merilis data bahwa penggunaan aplikasi khususnya perbelanjaan mengalami peningkatan mencapai 400 persen. Peningkatan ini didominasi oleh masyarakat tingkat atas dan menengah. Mereka mulai mengurangi intensitas belanja konvensional. Tidak lagi ke pasar atau mall, cukup belanja dari rumah dengan mengandalkan koneksi internet kebutuhan pokok dan kebutuhan lainnya bisa terpenuhi.

Kenormalan baru tidak hanya berdampak kepada masyarakat kalangan atas dan menengah saja. Pemerintah justru perlu memperhatikan dampak new normal ini di kalangan masyarakat tingkat bawah, para pekerja yang dirumahkan dan di-PHK. Perusahaan besar pun mulai mengambil kebijakan bagi karyawannya untuk bekerja di rumah. Hingga bulan Mei ini ada lebih dari 1,9 juta karyawan yang dirumahkan ataupun di-PHK.

Hingga saat ini, pemerintah memang mengandalkan program Kartu Prakerja bagi karyawan yang dirumahkan atau orang yang kehilangan pekerjaan. Namun rupanya, program ini belum berjalan secara maksimal dan dirasa kurang tepat sasaran. Masih banyak pengangguran dan orang-orang yang berada di kalangan bawah merasa kesulitan dalam melakukan akses program Kartu Prakerja karena keterbatasan perangkat yang mereka miliki.

Dengan kondisi new normal, tidak lantas membuat kehidupan normal sebelumnya berubah total. Bahkan bisa jadi akan ada pihak-pihak yang memilih menutup mata dengan kondisi new normal tersebut. Artinya tidak menutup kemungkinan mereka  mengabaikan protokoler kesehatan yang diterapkan pemerintah.

Para pedagang yang biasa menjajakan dagangannya di pasar akan tetap berdagang di pasar. Sangat sulit bagi mereka untuk menggunakan medium teknologi tingkat lanjut, khususnya bagi masyarakat yang mencari penghasilan sebatas untuk mencukupi makan sehari-hari saja. Saat pasar tempat mereka berdagang berhenti beroperasi atau minim pembeli, kran penghasilan utama mereka mendadak berhenti mengalir.

Tukang becak, tukang cukur, petugas parkir, petugas kebersihan jalan, dan masyarakat lainnya yang bekerja bukan demi mencari kekayaan sangat memerlukan waktu untuk beradaptasi dengan kondisi new normal ini. UMKM pun banyak yang harus menutup usahanya lebih dini.

New normal adalah keniscayaan. Sehingga, pemerintah wajib memberikan perhatian lebih kepada masyarakat, khususnya kalangan menengah ke bawah. Pandemi ini seolah memaksa mereka hidup di garis batas kemampuan mereka. Imbasnya, demi memenuhi kebutuhan pokok mereka akan melakukan segala cara, termasuk yang paling ekstrem adalah melanggar hukum. Jangan sampai tindakan melanggar hukum yang meningkat dan semakin marak di masa Covid-19 ini juga dianggap sebagai new normal.

Paradigma atas perubahan hidup new normal memang tidaklah mengikat selamanya. Setidaknya perubahan ini bertahan sampai vaksin dari Covid-19 ditemukan. Beberapa ahli dan pakar kesehatan dunia memprediksi vaksin Covid-19 paling cepat ditemukan sekitar tahun 2021 mendatang. Hingga saat itu tiba, pemerintah dan kita sebagai masyrakat tentu harus bijak dalam menyikapi perubahan new normal.

Sebagai penutup, Nicholas Eberstadt seorang penasihat senior di The National Bureau of Asian Research menyampaikan bahwa saat ini kita sedang berada di dalam kabut peperangan. Kita tidak tahu apa yang menanti di depan kita. Kita mungkin bisa memprediksi langkah-langkah yang akan kita ambil, tetapi tidak bisa memprediksi sejauh mana langkah itu efektif untuk memangkan perang melawan pandemic Covid-19.

Perlu kesadaran bersama seluruh dunia, dan kepedulian antar sesama untuk menekan serendah-rendahnya angka penyebaran virus yang dijuluki “super spreaders” ini. Artinya, virus dengan daya penyebaran yang super cepat. Pemerintah, masyarakat, ilmuwan, pengusaha, semuanya perlu bersinergi untuk menemukan solusi, bukan saling menyalahkan satu pihak atas pihak lain. Sudah saatnya kita buka lebar-lebar hati nurani, dan perlahan saling menurunkan gengsi.

Moh. Wildan Kurniawan
Mahasiswa Pascasarjana UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta 
Instagram: @mohwildankur