Begini Penjelasan Lengkap Soal Musala Arah Kiblat ke Utara di Jeneponto

Ketgam: Kapolsek Bangkala Polres Jeneponto bersama dengan pemerintah kecamatan menggelar rapat Forkopimda terkait musala yang diduga kiblatnya ke arah utara. 

BONEPOS.COM, JENEPONTO - Kapolsek Bangkala Polres Jeneponto bersama dengan pemerintah kecamatan menggelar rapat Forkopimda terkait musala yang diduga kiblatnya ke arah Utara.

Dalam hal tersebut, Kapolsek Bangkala Iptu Bahtiar mengatakan, telah menanyakan beberapa hal, termasuk pengikut khusus jamaah. Namun, dia bilang, musala itu tidak punya aliran khusus. Adapun yang menjalankan ibadah di musala itu hanya sebatas keluarga pemilik.

"Saya dan pemerintah mengimbau jangan ada datang. Bangunannya itu berada di tengah sawah yang memunculkan pertanyaan aneh-aneh. Jaraknya dari perkampungan desa tersebut kurang lebih 1 kilometer. Kalau dari Jalan Poros Jeneponto-Bantaeng kurang 10 kilometer ke musala," ujar Iptu Bahtiar kepada Wartawan, Jumat (28/5/2020).

Iptu Bahtiar menguraikan, musala itu dibangun demi memudahkan pemilik beribadah saat berada di sawah ketimbang pulang ke rumah. Terkait kiblatnya yang mengarah ke Utara, karena tidak menggunakan metode atau perangkat alat.

Pemilik mengira bangunan musala tersebut sudah menghadap ke kiblat. Dan jika itu sebuah kekeliruan mereka akan menyerahkan kepada pihak yang berwenang seperti Kementerian Agama dan MUI.

"Tadi Pak Sukriadi sudah meminta maaf dan bartobat, bahkan dia buat secara tertulis," sebutnya.

Bahtiar menjelaskan, bangunan musala tersebut sudah berdiri kurang lebih tiga bulan, semenjak adanya imbauan pemerintah untuk tidak salat berjamaah di masjid, sehubungan dengan Covid-19.

Dua hari sebelum Lebaran Idulfitri, dari pihak kepolisian setempat baru mendapat informasi dari warga, musala yang arah kiblatnya ke Utara.

Kepolisian juga langsung melakukan koordinasi dengan pemerintah setempat, Danramil, Camat, KUA untuk mengajak melakukan rapat koordinasi. Hasil dari rapat koordinasi itu melahirkan sebuah solusi.

Sehingga penanggung jawab musala itu, diundang datang untuk berdialog. Dan yang bersangkutan hadir untuk mengklarifikasi sekaligus membuktikan kebenaran isu-isu publik di luar terkait keberadaan musala yang diduga ajaran lain atau aliran lain.

"Dalam pertemuan itu telah dilakukan dan menanyakan kepada yang bersangkutan. Kita menanyakan agamanya, menguji sahadatnya, rukun Islam, rukun imam. Termasuk dengan aliran tertentu, dia ahlusunnah wal jamaah. Tak ada aliran sesat," imbuh Bahtiar.

"Kita percaya itu, karena dia langsung menjelaskan kepada kita namun tidak lepas dari itu kalau di kemudian hari apa yang dijelaskan itu terdapat dugaan penyimpangan maka kami akan melakukan tindakan tegas," ujarnya.

Iptu Bahtiar juga menyampaikan, pekan depan akan dilakukan pengecekan kembali di lapangan dan membawa alat untuk menentukan arah kiblat musala itu.

"Kalau memang demikian tetap pada posisi Utara arah kiblatnya itu kita akan diubah atau membongkarnya," ujarnya.

"Jangan ada yang melakukan tindakan kekerasan dan lainnya yang mungkin dapat berpotensi untuk mengganggu stabilitas konflik antara keluarga khusus masyarakat di sekitar itu. Kami sudah bergerak cepat mencari solusi. Saya rasa tidak ada lagi masalah," pungkasnya.

Terpisah, Kepala Desa Pallantikang, Saleha Dg Sakking mengatakan, baru mengetahui pembangunan musala itu, setelah mendapat penyampaian dari Babinsa setempat.

Saleha bilang, sejak Januari itu musala tersebut berdiri. Dibangun atas inisiatif sendiri. Dia juga mendengar dari Camat Bangkala, bahwa ada warga dari Bontonompo, Kabupaten Gowa, sempat salat Tarawih saat Ramadan lalu.

"Dulu itu katanya gurunya yang kasih petunjuk, tapi sudah meninggal. Dia sudah mengaku salah dan mohon maaf, apalagi ada juga pernyataannya. Namanya juga manusia biasa dia khilaf atau dia tidak tahu kan. Yang penting dikasih dulu kesempatan kalau mengulang lagi, lain cerita," sebutnya. (sam/ril)