Pemkot Dukung Penuh Pilkada Makassar, Ini Skemanya

BONEPOS.COM, MAKASSAR - Menindak lanjuti Rakor Kemendagri dengan Kemenpolhukam terkait kabupaten/kota yang gelar Pilkada serentak 2020, maka Pemerintah kota Makassar langsung melakukan koordinasi awal dengan jajaran Muspida kota Makassar.

Kata Pj Wali Kota Makassar Prof Yusran Jusuf, pihak pemerintah kota Makassar siap melakukan support full KPU untuk bisa menggelar Pilkada yang berkualitas lancar dan aman.

“Tahapan Pilkada kan sudah mulai dilaksanakan 15 Juni. Terkait anggaran tidak ada masalah. Mereka (KPU) diminta dulu kembali merestrukturisasi anggarannya karena beberapa rencana penggunaan anggaran sudah tidak ada. Seperti independen, pengumpulan massa skala besar jadi skala kecil dan virtual,” ucapnya usai Rapat Koordinasi bersama Muspida terkait pelaksanaan Pilkada serentak 2020, Senin (8/6/2020).

Selain dari Muspida, hadir juga Sekda Makassar, Kepala Badan Kesbangpol, kepala BPKAD, Kasat Pol PP, dan Asisten 1, 2, dan 3.

Sebelumnya, Komisioner KPU kota Makassar juga telah melakukan audiens terkait kesiapan tahapan Pilkada yang akan dilangsungkan 9 Desember 2020 nanti.

Ketua KPU Farid Wajdi melaporkan situasi anggaran karena adanya beberapa perubahan termasuk penambahan TPS karena situasi Covid-19 yang berdampak pada kenaikan anggaran.

“Alhamdulillah respons Pak Wali sangat welcome. Hari ini kami memang diberi waktu oleh KPU pusat untuk kembali melakukan pencermatan untuk melakukan perubahan struktur anggaran di KPU. Sehingga harus kami laporkan ke pemerintah kota,” tuturnya.

Kata Farid, dampak dari kenaikan TPS, sebanyak 291 TPS yakni ada peningkatan di operasional KPPS, PPDP, dan logistik sehingga meminta kenaikan anggaran sekitar Rp5,69 miliar.

“Untuk asumsi, pembentukkan TPS, honor KPPS, logistik di TPS nanti kemudian, PPDP dan sebagainya,” sambungnya.

Beberapa anggaran harus di-switch karena dalam tahapan lalu tidak dipergunakan. Seperti pencalonan perseorangan. Ada anggaran verifikasi yang besar sekali dan belum terserap sehingga harus dikonversi pada proposal yang selanjutnya akan diserahkan kembali ke pemerintah kota.

KPU juga memastikan akan melakukan beberapa penghematan anggaran, misalnya pertemuan dalam skala besar itu ditiadakan. Termasuk di dalamnya sosialisasi yang konsepnya mengumpulkan orang dalam jumlah banyak.

Kata Farid, hal ini tentu tidak bisa dihapus, tetapi akan dikonversi ke bentuk digital. Sehingga ada penghematan anggaran seperti honor, perjalanan dinas, dan sebagainya.

Begitu pun dengan bimtek. Bimtek tidak bisa ditiadakan tapi diatur dinamikanya sehingga skema mitigasi Covid-19 agar tidak membahayakan warga yang datang ke TPS.

“Komponen honor yang kami maksud usulkan ke pemerintah kota sebagai dampak dari kenaikan TPS. Komponennya adalah honor KPPS yang bertambah. Saya masih mencermati berapa totalnya tapi lebih dari 14.900 tambahan petugas yang harus kami siapkan,” kunci Farid. (ril)