Korban PHK di Era New Normal, Begini Solusinya

Wawan Rhee

Tiga bulan sudah bangsa kita terdampak pandemi virus Corona (Covid-19). Hingga sekarang, peningkatan jumlah positif tak jua melandai. Sektor perekonomian bangsa pun dihantamnya. Porak-poranda. Efek yang diciptakan memaksa industri mengurangi tenaga kerja.

Diperkirakan, ada 47 persen usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) terpaksa gulung tikar. Per 20 April 2020, pemerintah melaporkan jumlah tenaga kerja yang dirumahkan maupun terkena Pemutusan Hubungan Kerja alias PHK mencapai 2 juta orang.

Jumlah itu, belum seberapa jika dibanding data Kamar Dagang dan Industri Indonesia (Kadin) yang menyebut angka yang jauh lebih besar, yaitu 15 juta jiwa.

Peningkatan lonjakan pengangguran tak hanya terjadi di Indonesia. Hampir seluruh dunia yang terpapar Covid-19 mengalami fenomena serupa. Termasuk negara-negara maju dan superpower.

Hal ini semakin menambah keruwetan dengan segala ketidakpastian. Tak dapat diprediksi, kapan wabah ini berakhir.

Vaksin definitif yang diharapkan menjadi senjata pemungkas guna mengakhiri pandemi ini pun belum ditemukan. Termasuk geliat perekonomian, masih samar-samar kapan pulihnya. Kita pun hanya sebatas memprediksi. Semua menjadi tidak pasti.

Dalam situasi ketidakpastian, kita diminta melakukan perubahan tatanan baru yang beken disebut New Normal.

Sistem protokoler ini tak lagi sekaku seperti kebijakan pembatasan sebelumnya. Ini sekaligus menjadi momen bagi korban PHK bangkit dari keterpurukan.

Bagaimana cara menghadapinya?

Saya pernah mengikuti kelas online yang diampuh Guru Besar Bidang Ilmu Manajemen Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia (UI), Prof. Rhenald Kasali. Beliau menganalogikan dalam era ketidakpastian terdapat dua jenis karakteristik. Tipe eksplorasi dan eksploitasi.

Dua karakteristik ini diambil dari analogi dunia migas. Jika Prof. Rhenald Kasali mengambil sudut pandang eksplorasi dan eksploitasi pada subyek dunia usaha. Saya justru melihat angle itu pada individual manusia yang terdampak PHK.

Manusia eksplorasi adalah orang yang melakukan pencarian. Mereka mencari atau melakukan penjelajahan dengan tujuan menemukan sesuatu. Golongan seperti ini dihadapkan pada ketidakpastian, apakah yang dicari benar ada atau tidak.

Dari satu tempat ke tempat yang lain mereka mencari sumber daya yang dibutuhkan, mempelajari setiap teritorial yang disinggahi. Hingga mengeluarkan biaya yang tidak sedikit, meski akhir pencariannya tak membuahkan hasil. Mereka frustrasi? Tentu tidak.

Saya melihat karakter ini terus menerus melakukan pencarian, melaksanakan penjelajahan hingga pada akhirnya mereka menemukan apa yang menjadi tujuannya.

Habit orang eksplorasi penuh dengan petualangan. Penjelajahan demi penjelajahan terus dilalui. Hal tersebut membuat mereka selalu menemukan pelajaran baru, tangguh dan tidak gampang menyerah.

Hal berbeda bila dibandingkan golongan eksploitasi. Mereka berada pada level nyaman dan datar-datar saja. Personal seperti ini berhadapan dengan situasi yang serba pasti dan dapat diprediksi.

Eksploitasi ini yang kemudian mengambil manfaat dari pencarian melalui proses eksplorasi. Hasil yang diperoleh terukur. Misalnya hasil pengeboran minyak dimana cadangan yang dikandung bisa diperhitungkan. Kandungan minyaknya bisa dimanfaatkan sepuluh atau dua puluh tahun. Atau bahkan bisa lebih lama lagi hingga 50 tahun.

Namun, sumber daya apa pun itu juga pasti akan berkurang dan habis. Jika tetap seperti itu tanpa ada perubahan, dan masa telah berakhir. Ya wassalam, selesai

New Normal mengembalikan karakter warisan nenek moyang.

Saya berpandangan, era new normal adalah situasi yang memaksakan kita mengembalikan pola pikir manusia yang sebagaimana mestinya. Era, dimana etos dan prinsip kerja kita kembali pada karakteristik eksplorasi. Sebagaimana Tuhan menciptakan manusia dengan akal pikiran serta insting.

Bukankah ribuan tahun silam manusia hidup dengan cara berburu. Manusia kala itu memperoleh makanan dengan cara berburu hewan dan mengumpulkan makanan yang tersedia dari alam. Mereka juga hidup dengan cara berpindah-pindah dari satu tempat ke tempat yang lain.

Itu dilakukan guna menemukan lingkungan baru yang menjamin ketersediaan pangan.

Pola kehidupan yang tidak datar-datar saja sebagai cerminan karakter eksplorasi. Dan, era new normal ingin mengembalikan tatanan hidup seperti itu. Bukan peradabannya, melainkan cara hidup eksplorasi yang jauh lebih modern dan relevan. Kekinian.

Kenyamanan dalam situasi normal “meruntuhkan” karakter eksplorasi yang sudah diwariskan nenek moyang kita. Semua dijalani dengan statis seolah jalan cerita kehidupan selalu mulus tanpa goncangan. Itulah mengubah karakter kita menjadi manusia eksploitasi, jika sudah merasa nyaman, ya sudah cukup.

Sejak beberapa tahun terakhir harusnya kita sudah bisa membaca gejala-gejala perubahan itu. Disruption misalnya, yang seharusnya memberikan pelajaran baru tentang hal yang usang dan tidak lagi relevan akhirnya game over. Sebut saja taksi konvensional harus dipaksa menyerah dengan kehadiran aplikasi seperti Uber, Grab dan Gojek.

Saudara-saudara korban PHK, saatnya untuk bangkit dan berhenti menjadi melankolis. Dengan semangat hidup warisan nenek moyang kita, mari kita ubah mindset kita dengan melakukan pencarian sumber kehidupan baru dengan membaca situasi, merencanakan kemudian melakukan eksekusi.

Sudah bukan zamannya bersikap eksploitasi, karena ketidakpastian tak lagi berkompromi dengan sikap seperti itu.

New normal menyuruh kita untuk kembali membuka lembaran baru, entah kembali menjadi tenaga kerja atau malah naik level menjadi self employed. Mereka yang sejak dulu bersikap eksplorasi selalu menemukan ide baru agar tetap settle. Mereka mampu membaca situasi seperti pandemi seperti sekarang.

Pasar memang mengalami penurunan daya beli yang cukup signifikan. Tapi diantaranya ada permintaan yang cukup tinggi. Sebut saja kebutuhan masker, Alat Pelindung Diri (APD) dan alat kesehatan lainnya yang mengalami lonjakan harga yang tak wajar dan langka.

Ia merespons permintaan pasar dengan memproduksi masker non medis custom berbahan kain. Produk ini menjadi pilihan di tengah meroketnya harga masker yang dulunya dibanderol seharga Rp25 ribu per boks naik hingga Rp300 ribu.

Produk masker handmade ini selain murah punya kualitas baik, juga ekonomis karena bisa dicuci hingga dapat dipakai berulang kali. Bahannya pun bermacam-macam, ada kain drill, spunbond dan scuba yang didesain unik dan lucu.

Konon kabarnya, masker pabrikan yang ditimbun orang tidak bertanggung jawab itu akhirnya menurunkan harga jual karena sudah tak lagi dilirik masyarakat. Belum lagi, banyak dermawan yang memborong masker produksi rumahan itu untuk dibagikan secara gratis.

Tak hanya masker, ada pula yang menjahit setelan hazmat, baju pelengkap APD yang digunakan tenaga medis saat merawat pasien terinfeksi Corona. Termasuk face shield yang biasa dijumpai toko-toko alat kesehatan juga bisa diproduksi skala UMKM.

Tukang pangkas rambut keliling mulai bermunculan. Bagi mereka yang tidak bisa memangkas rambut di salon dan barbershop, hair stylist mobile menjadi alternatif. Untuk urusan model potongan rambut tak kalah keren, meski mereka bekerja dengan standar protokol kesehatan menggunakan APD.

Masih banyak lagi pekerjaan-pekerjaan baru lahir di tengah keterpurukan ekonomi yang disebabkan krisis kesehatan global. Tentu pekerjaan itu lahir dari mereka yang bermindset eksplorasi, bukan eksploitasi. Hanya mereka yang mau berpikir dan berusaha bisa tetap eksis di situasi seperti sekarang.

Sementara yang setia dengan pilihan eksploitasi hanya bisa pasrah menunggu situasi berubah normal. Dan kita tahu bersama kondisinya seperti apa di kekinian.

Banyak orang besar lahir dari keterpurukan. Sebut saja Sandiaga Salahuddin Uno yang kini menjadi pengusaha hebat di negeri ini.

Siapa sangka dulunya ia pernah menjalani pahitnya kehidupan karena di-PHK perusahaannya saat krisis moneter melanda 1998 silam. Pandemi ini adalah ujian.

Ketidakpastian termasuk bagiannya. Dirumahkan hingga di-PHK hanya bagian dari proses hidup. Tinggal pilih mau menjalani setelahnya seperti apa. Mengubah tatanan baru dengan new normal ala eksplorasi atau “dieksploitasi” corona effect. Monggo dipilih.

Penulis : Wawan Rhee
Magister Komunikasi UNIFA