Karhutla Picu Risiko Kematian Penderita Corona, Begini Sikap Andi Akmal Pasluddin

BONEPOS.COM, JAKARTA - Kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) kembali marak di Tanah Air. Sejumlah pihak pun menyoroti.

Sorotan salah satunya disampaikan Anggota DPR RI Komisi IV, Andi Akmal Pasluddin.

Kejadian kebakaran hutan kali ini menjadi persoalan yang tidak biasanya akibat berbarengan dengan pandemi virus Corona (Covid-19). Virus yang cenderung menyerang saluran pernapasan terutama paru-paru ini bila digabung dengan kejadian kebakaran hutan yang berdampak pada asap tebal, maka risiko kematian penderita penyakit Corona akan lebih tinggi tingkat kematiannya.

"Kebakaran hutan ini berlangsung tiap tahun. Besar kecil kebakaran akan selalu mengganggu lingkungan masyarkat karena terganggu pernapasannya. Semakin besar kebakaran, semakin luas dampaknya hingga keluar negara. Bila berbarengan dengan wabah virus Corona ini, sangat berbahaya sekali bagi penderitanya," jelas Akmal.

Politikus PKS ini menuturkan, paparan virus Corona dengan ada atau tidak ada kebakaran jangkauannya akan sama saja tergantung pengendalian pemerintah bersama masyarakat.

Namun, bila pada lingkungan yang terdampak kebakaran hutan dan lahan seperti Sumatera dan Kalimantan, maka ancaman kematian akan semakin tinggi pada masyarakat yang terkena wabah ini.

Seperti yang dipaparkan Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG), kemarau panjang mengalami puncaknya pada Agustus 2020. Dan sejak April, 17 persen wilayah Indonesia sudah masuk musim kemarau.

Maka dari itu, Akmal menegaskan, perlu pengendalian ekstra tinggi dilakukan pada penanganan kebakaran hutan terutama pada giat pencegahannya.

"Koordinasi pemerintah pada pengendalian kabakaran hutan kali ini berhadapan pada risiko jatuhnya korban jiwa. Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) dan Asma akan menjadi dua kali lipat beratnya ketika bersandingan dengan Corona. Kebijakan Anggaran pada penanganan kebakaran hutan ini mesti sinergi dengan pengendalian Covid-19 sehingga efektif dan efisien," papar Akmal.

Akmal sangat berharap, pola yang dilakukan pemerintah berupa mengulang modifikasi cuaca dapat membuahkan hasil. Modifikasi cuaca dengan tujuan menurunkan hujan di wilayah gambut agar lahan tetap basah dan terhindar dari potensi terbakar menjadi harapan semua pihak.

"Sudah ribuan titik hotspot bermunculan sejak Januari lalu di hampir seluruh wilayah yang menjadi langganan kebakaran hutan mulai dari Sumatera Selatan, Sumatera Barat hingga Riau. Semua berharap pemerintah kali ini mampu membuktikan kinerjanya dalam pengendalian kebakaran hutan ini sehingga rakyat bertambah rasa aman dalam berkehidupan di negeri ini," kunci Andi Akmal Pasluddin. (ril)