Idealisme dan Pembunuhan Karakter

Wawan Rhee

Nama Xu Xiaodong mungkin terdengar asing. Tapi, ketika berbicara idealisme bela diri, Xu Xiaodong adalah perintis Mixed Martial Arts (MMA) di daratan China yang menentang praktik bela diri “palsu”.

Kendati sebagai pelopor seni bela diri campuran, Xu justru menjadi atlet paling tidak dianggap. Di negaranya, Ia dibenci dan tidak dihargai sama sekali. Bahkan, pemerintah mengganjar Xu dengan pembatasan akses sosial dan penurunan kredit poin publik.

Xu dianggap telah melecehkan seni bela diri asli Tiongkok, kungfu. Ia menantang para praktisi bela diri, untuk bertarung secara terbuka. Tak hanya satu, Xu menantang hampir semua aliran ahli kungfu berbagai aliran. Mulai Tai Chi hingga Wing Chun.

Dengan teknik tarung MMA, Xu mampu membuktikan dirinya sebagai petarung berkelas. Sekaligus menunjukkan ke publik jika lawannya yang selama ini dicitrakan sebagai ahli bela diri rupanya tidak mampu mengimplentasikan teknik bela diri ke dalam pertarungan yang sesungguhnya.

Petarung kelahiran di Beijing 15 November 1979 silam ini sebenarnya bukan untuk gagah-gahan. Karena idealisme, Xu ingin membuka mata publik dengan membongkar praktik kebohongan kungfu di China. Itu saja.

Petarung bertubuh gempal ini khawatir, jika peserta didik sekolah bela diri yang diajarkan oleh praktisi “palsu” justru tidak dapat digunakan pada pertarungan sesungguhnya yang akan dihadapi di kemudian hari.

Xu yakin, para petinggi sekolah bela diri bergelar master hingga grandmaster telah melakukan penipuan dan mengajarkan bela diri “palsu” terhadap murid-muridnya. Padahal masyarakat Cina yang mengikuti kelas bela diri tersebut membayar iuran sebagaimana sekolah pada umumnya. Inilah yang mungkin dianggap Xu sebagai pembohongan.

Fokus petarung kelahiran Beijing 15 November 1979 silam ini tentu bukan pada seni bela diri kungfu, melainkan kepada sang master. Xu sendiri percaya terhadap ajaran tradisional leluhurnya itu. Walau sebagai pelopor MMA, namun basic bela diri Xu adalah Sanshou yang dikenal sebagai tinju Cina.

Ia menekuni Shashou saat usianya 20 tahun. 2017 silam, master Tai Chi Wei Lei menyebut teknik bertarung MMA tidak praktis dan punya banyak kelemahan. Wei Lei malah sesumbar. Menurutnya, ia mampu melepaskan kuncian MMA, Rear Naked Choke menggunakan satu tangan dengan sangat mudah.

Menanggapi tudingan Wei Lei, Xu yang terlanjur kesal dengan praktik bela diri “palsu” kian geram. Xu menantang Wei Lei bertarung satu lawan satu untuk membuktikan omongannya.

Pertarungan lawas antara Xu Xiaodong dan Wei Lei yang banyak beredar di YouTube ini terlihat sangat singkat. Dalam hitungan 20 detik Xu mampu menumbangkan Wei Lei dengan mudah.

Master Tai Chi itu tak berdaya. Ia sempoyongan, lalu oleng ketika pukulan Xu bertubi-tubi mendarat di wajahnya. Serangan terus dilakukan Xu hingga Wei Lei tersungkur di atas matras. Wasit kemudian menghentikan pertarungan, setelah Wei Lei dihabisi Xu secara brutal.

Rupanya, pertarungan itu menjadi awal keterpurukan Xu. Ia diteror dengan kekerasan verbal oleh pihak tertentu. Media Cina menggambarkan Xu sebagai sosok yang menodai kultur budaya Cina menggunakan ideologi barat melalui MMA.

Serangan terhadapnya teramat masif. Istri Xu diteror, diancam akan dibunuh. Keluarga Xu berada dalam penderitaan berkepanjangan.

Kehidupannya kian miris setelah pemerintah Cina memberikan sanksi sosial kredit yang terkait dengan perekonomian Xu.

Sistem sosial kredit China berkaitan dengan aset dan kredit seseorang. Kredit merupakan penilaian kata yang janjikan. Semakin tinggi kredit seseorang, semakin tinggi nilai janji ini. Sementara Xu, ditempatkan di level terendah.

Melalui teknologi Artificial Intelligence (AI), wajah Xu telah dibidik dan ditandai sebagai orang yang terkena sanksi sosial. Akses geraknya penuh pembatasan.

Aktivitas Xu dimonitor dan tidak diperbolehkan menggunakan fasilitas umum termasuk moda transportasi. Konsumsi jaringan internet bukan hanya dikurangi, juga diblok.

Tujuan Xu membongkar bela diri palsu berujung hinaan. Meski ia dibatasi untuk bertarung, Xu juga tidak diperbolehkan memperlihatkan wajah aslinya. Ia harus menggunakan cat wajah dan menambahkan nama belakangnya menjadi “Xu Xiaodong semangka”.

Pasti ini sangat menyakitkan buatnya.

***

Menegakkan kebenaran memang tidak semudah yang diceritakan di film dan komik superhero. Seperti halnya Xu Xiaodong, ia harus menelan pil pahit atas upaya membongkar praktik bela diri palsu di negaranya.

Seperti sebuah kutukan, idealisme orang baik selalu saja berakhir menyedihkan. Apalagi, jika perbuatan baik itu dianggap bertentangan dan mengusik penguasa. Jangan harap endingnya bahagia.

Di negara kita, nasib Xu Xiaodong nyaris serupa dengan penyidik senior Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Novel Baswedan. Upayanya mencari keadilan atas kasus penyiraman air keras yang menimpanya sejak 2017 silam masih belum menemukan titik terang.

Kabar anyar, jaksa menuntut satu tahun penjara kepada kedua pelaku penyerang Novel. Jaksa berdalih, pelaku tak sengaja lukai mata Novel.

Alih-alih mendapat keadilan, nama besar Novel juga diserang sebagai upaya pembunuhan karakter. Entah berapa kali isu Taliban dikaitkan dengan nama mantan perwira polisi ini. Tentu yang bermain di balik kasus Novel ingin menciptakan persepsi buruk terhadap penyidik yang disegani itu. Dengan begitu, ada alasan untuk menyingkirkan Novel dari lembaga anti rasuah.

Upaya pembunuhan karakter terhadap Novel ternyata mampu menciptakan kontroversi. Novel disebut ikut bermain pada panggung kontestasi Pilpres 2019 lalu. Ia dianggap menjual kasus yang dialami guna menyerang salah satu pasangan capres.

Novel juga pernah dilaporkan oleh Dewi Tanjung. Politikus partai PDI-P itu menyebutkan jika kasus penyiraman air keras itu hanyalah rekayasa.

Bagaimana pola pembunuhan karakter?

Sejak dunia saling terhubung melalui platform media sosial, manusia semakin aktif dalam bertukar pesan. Untuk tujuan tertentu pesan itu dikemas dalam rangkaian narasi. Itu dibuat sebaik mungkin untuk menciptakan partisipasi aktif.

Nah, orang-yang memiliki idealisme seperti Xu Xiaodong dan Novel Baswedan, dinarasikan dengan mengambil angle kontra untuk memancing respons publik dan membentuk opini baru.

Xu Xiaodong diceritakan sebagai orang yang menodai kultur budaya China sementara Novel digambarkan sebagai orang fanatik dan suka playing victim.

Rhenald Kasali dalam #MO (2019) mengatakan, narasi yang dikemas baik adalah yang bisa mengendarai arus (riding the stream) dengan memanfaatkan isu yang tengah berkembang atau tengah menjadi perhatian publik.

Aksi Xu membongkar bela diri palsu menjadi kontradiktif seiring kungfu dicitrakan sebagai seni bela diri terbaik yang ditampilkan melalui film-film. Terlebih sejak kisah master Wing Chun sekaligus guru Bruce Lee, IP Man yang diangkat ke layar lebar banyak mendapat respons positif dari penggemar film bergendre kungfu.

Lain halnya dengan Novel. Mugkin karena gaya berbusana menggunakan gamis dan celana cingkrang, Ia dicitrakan sebagai simpatisan Taliban.

Hal ini bisa memantik respons di tengah upaya pemerintah memerangi negara kelompok radikal, yang sangat khas dengan busana serupa Novel.

Untuk lebih menghancurkan karakter orang yang dibidik, publik (netizen) termasuk influencer dilibatkan. Narasi yang dibentuk oleh partisipan (netizen dan influencer) ini subyektif dan cenderung tendensius.

Terakhir, narasi yang diciptakan harus relevan dengan kondisi publik dan juga sarat emosi. Jika sudah menyentuh aspek emosional karena narasi yang sengaja diciptakan, pesan-pesan akan mudah disebarkan hingga menjadi viral.

Hal ini sangat miris, ketika orang yang menegakkan kebenaran justru mendapat perlakukan diskriminatif. Jika ini terus-terus terjadi, apakah suatu saat nanti anak cucu kita masih mau mempertahankan idealismenya? Bisa jadi ada ketakutan untuk bersikap idealis. Atau malah memilih mengikuti arus yang tidak jelas arahnya. Yang penting cari aman.

Penulis:
Wawan Rhee
Founder Gardapati Link