Start-up Berguguran, Sudah Saatnya Move On

BONEPOS.COM Wawan Rhee - Founder Gardapati Link

Gelombang pandemi Covid-19 tidak hanya menggulung industri yang lebih dulu existing. Perusahan rintisan (start-up) juga ikut terimbas. Apalagi, start-up yang core bisnisnya terkait erat dengan layanan pariwisata, perjalanan termasuk transportasi. Dalam situasi sekarang, start-up harus segera “move on” agar tetap bertahan.

Perusahaan digital Airbnb asal San Francisco, California AS ini mendapat tekan berat. Valuasinya yang diperkirakan puluhan miliar dolar dikabarkan ambyar. Bahkan, perusahaan yang didirikan Brian Chesky dan rekannya Joe Gebbia baru saja melakukan pemutusan hubungan kerja (PHK) terhadap seperempat karyawannya.

Sejak bergulirnya era disruption, jauh sebelum amuk corona, Airbnb merupakan start-up kelas wahid. Perusahaan ini menggerogoti bisnis perhotelan karena menyewakan penginapan low cost dan bertebaran di seantero dunia.

Tak hanya Airbnb, Grab juga melakukan pemangkasan terhadap 360 karyawannya di Asia Tenggara. Termasuk di tanah air, perusahan karya anak bangsa, Gojek mengikuti langkah kompetitornya itu dengan memberhentikan 430 karyawan.

Akibat penerapan social distancing, Gojek juga terpaksa menghentikan GoLife meliputi layanan GoMassage dan GoClean, serta GoFood Festival yang merupakan jaringan pujasera GoFood di sejumlah lokasi.

Keadaan semakin diperparah dengan terbitnya serangkaian regulasi yang membuatnya semakin tertatif. Sebut saja kebijakan pembatasan sosial. Masyarakat dihimbau untuk work from home (WFH). Itu berdampak pada permintaan layanan berbagi tumpangan (ride hailing) anjlok 80%. Termasuk, lesunya sektor pariwisata yang berdampak pada layanan penerbangan dan perhotelan yang menjadi domain Airbnb, Traveloka dan sejenisnya.

Karena tergerusnya income dengan menurunnya daya beli, mau tidak mau, dilakukan upaya efisiensi demi menjaga stabilitas keuangan. Efisiensi yang turut berimbas pada program promo, special price, termasuk cashback yang selalu menjadi daya tarik perusahaan digital.

Kebijakan “bakar uang” yang selama ini masih dijalankan sejumlah perusahaan digital mulai tertahan. Dilansir dari katadata, salah satu upaya efisiensi yang telah dilakukan start-up adalah memangkas gaji karyawan, khususnya level manajemen.

Gojek memangkas gaji setahun co-CEO dan manajemen senior sebesar 25%. Selain itu, Gojek akan mengalihkan anggaran kenaikan gaji tahunan seluruh karyawan untuk dana bantuan tersebut. Sedangkan Grab memangkas gaji para petingginya sebesar 20%.

Tujuannya untuk membantu mitra pengemudi dan penjual (merchant) yang pendapatan hariannya tertekan oleh pembatasan sosial dan WFH dalam penanganan pandemi. Dari pemotongan gaji tersebut, Gojek mengumpulkan Rp 100 miliar, sementara Grab Rp 161 miliar.

Jika tidak segera dilakukan perbaikan signifikan selama pandemi berlangsung, tidak menutup kemungkinan akan semakin menambah panjang jumlah start-up yang gulung tikar. Apalagi pembatasan-pembatasan yang menjadi biang kerok lesunya perekonomian ini belum bisa diprediksi kapan berakhirnya. Bisa jadi setahun, dua tahun. Atau sampai vaksin definitif ditemukan.

Ditambah, pergerakan jumlah positif yang terus mengalami peningkatan setiap harinya, juga belum menunjukkan tanda-tanda melandai. Malah, Kamis pekan kemarin, (9 Juli 2020) kasus corona di Indonesia tembus di angka 2.657 kasus.

***

Rontoknya sejumlah perusahaan berbasis digital yang diakibatkan badai corona ini semakin menguatkan anggapan sebagian pengamat. Benarkah bisnis tersebut rentan goyah dan sulit berumur panjang?

Terlepas efek krisis kesehatan global, start-up diklaim sejumlah ahli memiliki potensi besar mengalami kegagalan. Potensi keberhasilan disebut hanya satu persen saja. Selebihnya, 99 persen gagal.

Diakui, banyak start-up berhasil berada di level unicorn. Keberhasilan itu karena platform menjadi media yang langsung mempertemukan antara supply and demand. Disparitas harga yang ditawarkan cukup kompetitif, simpel dan praktis. Itu yang membuat publik jatuh hati dan perlahan melakukan shifting dari pasar konvensional.

Mereka menganggap platform perusahaan baru itu menghadirkan solusi. Actionnya selalu inovatif dalam menjawab kebutuhan masyarakat yang tak dapat diakomodir pasar sebelumnya.

Kehadiran start-up dianggap sebagai lawan-lawan yang tak terlihat dalam pusaran bisnis. Ia menyedot pangsa pasar perusahaan incumbent. Kini, hal serupa dialami sejumlah perusahaan digital. Virus yang nyaris tak terlihat berukuran 120 nanometer memaksa untuk lebih kreatif melahirkan inovasi baru agar bisa bertahan.

Peluang untuk bertumbuh dan eksis masih sangat terbuka lebar. Guna meningkatkan revenue, perusahaan yang mayoritas digagas kaum muda harus mampu mengurai dan mengidentifikasi perubahan. Jika dianggap perlu, salah satu langkah yang perlu diambil dalam penyelamatan bisnis adalah dengan mengevaluasi kembali bisnis model. Sekaligus mengukur relevansinya dengan situasi perekonomian sekarang.

Catatan pentingnya adalah, perusahaan rintisan harus memprioritaskan sekaligus memastikan kondisi keuangan. Kondisi keuangan dipastikan sudah terukur dengan mengambil batas kondisi terburuk. Mengapa? Agar perusahaan lebih peka untuk menempatkan post-post anggaran paling vital.

Sub sektor yang tidak menghasilkan revenue sebaiknya diminimalkan. Idealnya, lebih fokus pada pengembangan sub sektor yang terkait dengan tren yang berlangsung misalnya kesehatan, pendidikan dan pembayaran digital (fintech).

Merujuk pada diagram manfaat dan penderitaan konsumen (Disruption, 2017) pelaku start-up mendeskripsikan seluruh mata rantai nilai. Kemudian, mencari jalan keluar untuk menguasai atau membebaskan pelanggan dari penderitaan-penderitaan dan memberikan manfaat lebih besar.

Dalam upaya pencegahan penularan corona seperti sekarang, keinginan dominan khalayak adalah tetap sehat, terhindar dari penularan virus namun dapat melaksanakan kehidupan dengan normal.

Start-up harus melihat hal tersebut sekaligus merespons sebagai sebuah problem yang dihadapi masyarakat. Mereka harus membidiknya dengan menawarkan sesuatu sebagai solusi dan memberikan manfaat baru.

Tak sekadar perbaikan. Krisis ini justru memberikan peluang bisnis baru. Bisnis yang dapat beradaptasi dengan perkembangan tren baru seperti gaya hidup sehat yang menjadi tren agar terhindar dari penularan virus perlu perkuat.

Perusahaan bisa menjadi media suplai pangan. Contohnya, produk pertanian organik. Untuk memangkas mata rantai produk sampai ke konsumen, dibutuhkan perantara platform agar harga menjadi lebih kompetitif.

Kuncinya masih sama, menguatkan sistem kolaborasi dan berbagi keuntungan. Perusahaan rintisan perlu mengorkestrasi para petani-petani penghasil produk unggulan untuk menggenjot hasil tani terbaik. Benang merahnya adalah platform menjadi solve agar petani terbantu dalam memasarkan hasil tani dan konsumen memperoleh produk organik dengan harga relatif murah dibanding harga pasar.

Kesulitan yang menghantam berbagai sektor menjadi tantangan tersendiri bagi pelaku bisnis start-up. Ini sekaligus momen pembuktian, apakah bisnis yang dibangun sudah tepat. Secara tidak langsung pelaku bisnis mereview kembali prinsip bisnis yang dibangun.

Yang menarik adalah, venture capital masih berkomitmen untuk mengucurkan dana untuk perusahaan rintisan potensial. Venture capital menilai bahwa start-up yang bertahan dan mengalami tren positif di masa pandemi adalah perusahaan kokoh dari segi fundamental.

Jangan Coba-coba

Ada tren baru sejak era digitalisasi. Tidak sedikit orang mengembangkan aplikasi dan meniru pola platform yang sudah ada sebelumnya. Ada yang membuat konsep transportasi seperti Gojek, atau marketplace sekelas Bukalapak, Tokopedia dan sejenisnya.

Upaya “copycat” itu dilakukan karena menganggap bisnis serupa tersebut menjanjikan. Padahal mereka belum memiliki fundamental yang kuat baik dari aspek bisnis model termasuk pendanaan.

Semakin bertumbuhnya jumlah aplikasi yang di play store dan app store sebagian besar atas sumbangsih mereka yang hanya ikut-ikutan saja. Yang disayangkan, pembuat aplikasi yang sebagian diantaranya mengklaim diri sebagai start-up justru tidak menawarkan sesuatu yang baru.

Kalau sifatnya hanya mengikuti tren dan sekadar ikut-ikutan, sebaiknya tidak latah membuat platform start-up. Ini sama saja menjerumuskan diri sendiri jika tidak memiliki produk inovatif yang menjadi kebutuhan publik. (*)

Penulis: Wawan Rhee (Founder Gardapati Link)