Opini: Dilema Investasi Era Covid-19

Haris Zaky Mubarak, - Sejarawan dan Direktur Jaringan Studi Indonesia

Hadirnya wabah pandemi Covid-19 secara global telah membuat perubahan bagi postur dan tata kelola ekonomi di Indonesia. Seperi yang disampaikan oleh Presiden Joko Widodo (Jokowi) dalam rapat sidang kabinet paripurna pada 18 Juni lalu dimana selama masa darurat pandemi Covid- 19. Proyeksi pertumbuhan ekonomi (dunia) telah terkontraksi 6 sampai 7,6 % dan pertumbuhan ekonomi Bank Dunia minus 5 %.Sebagai antisipasi, Pemerintah Indonesia sampai hari ini terus berupaya menahan ancaman kemerosotan ekonomi yang mungkin akan terus terjadi.

Pemerintah Indonesia masih terus berusaha untuk mengantisipasi krisis ekonomi dengan berbagai ekspansi fiskal yang sangat besar. Banyak dana segar yang disediakan oleh pemerintah Indonesia pada sektor kesehatan, perlindungan sosial, UMKM, pembiayaan korporasi, dan insentif usaha. Bahkan jika dihitung total dari angka tersebut sudah mencapai Rp695,20 triliun. Angka tersebut dapat dikatakan fantastis untuk sebuah kebijakan strategis dalam rangka pemulihan ekonomi negara yang belum diketahui kapan kepastian kembali normal.

Berdasarkan data laporan Badan Pusat Statistik (BPS), beberapa hal penting yang akan menyebabkan terjadinya penurunan dalam pertumbuhan ekonomi adalah penurunan pendapatan masyarakat, sektor industri pengolahan, sektor perdagangan, ekspor, dan penurunan harga komoditi. Oleh karenanya strategi kebijakan yang efektif untuk pemulihan ekonomi nasional karena dampak pandemi ini hanya akan dapat efektif dicapai jika Indonesia mampu mendorong pemajuan usaha melalui sektor investasi dan ekspor.

Satu hal yang penting untuk dicatat, pertumbuhan ekonomi di Indonesia hampir 90% berasal dari sektor konsumsi rumah tangga dan investasi. Peran Investasi masih jadi andalan pemerintah untuk mengdongkrak pertumbuhan ekonomi di tengah pandemi. Sayangnya, upaya untuk menarik investasi lebih banyak masih sulit dikembangkan di Indonesia bahkan seringkali investor tak melirik Indonesia sebagai tempat investasi yang prospektif. Mengapa hal demikian dapat terjadi.?

Evaluasi Besar

Pada akhir Juni 2020 yang lalu kita dikabarkan akan kedatangan banyak pemodal asing dalam tujuh perusahaan China yang disebutkan akan merelokasi usaha pabriknya ke negara Indonesia. Selain itu, ada juga 17 perusahaan lain dari luar negeri yang berencana pindah ke Indonesia. Adanya kabar ini jelas memberi angin segar bagi kelesuan sektoral kehidupan ekonomi Indonesia karena relokasi perusahaan-perusahaan dari China tersebut ke Indonesia selain mendatangkan investasi, keberadaan investor asing sektor manufaktur ini bisa membuka laju pasar tenaga kerja yang selama ini terdampak pandemi Covid-19.

Namun, langkah untuk mendatangkan pemodal asing itu tampaknya masih harus diperjuangkan lebih keras lagi. Pasalnya, banyak para kalangan pengusaha nasional yang menilai bahwa Indonesia masih kurang menarik bagi pasar investasi dunia mengingat kita masih memiliki banyak persoalan secara sistem bisnis yang belum terselesaikan.

Beberapa tantangan yang selama ini menjadi permasalahan krusial dalam dunia investasi dan bisnis di Indonesia adalah persoalan sisi kemudahan izin berbisnis di Indonesia. Jika membaca data Survei Bank Dunia tahun 2018-2019 peringkat kemudahan berbisnis di Indonesia masih stagnan pada level 73. Posisi itu jelas kalah jauh dibanding negara ASEAN lainnya seperti halnya Singapura yang berada di posisi 2, Malaysia pada posisi 12, Thailand pada posisi 21 dan Vietnam pada posisi 70.

Faktor lainnya yang turut mempengaruhi adalah soal produktivitas dan upah tenaga kerja di Indonesia yang dinilai kurang kompetitif. Usulan pembahasan Rancangan Undang Undang (RUU) Cipta Kerja oleh pemerintah dan DPR diyakini akan mendatangkan investasi karena prinsip dasar dari RUU Cipta Kerja adalah salah satu terobosan pemerintah di bidang regulasi. Semangat RUU Cipta Kerja yang diharap dapat memangkas kerumitan investasi dinilai bisa menjadi solusi atas krisis yang terjadi akibat pandemi.

Koordinasi Sistem

Memajukan pertumbuhan Investasi, baik investasi asing maupun domestik bagi setiap negara jelas akan mendorong kemajuan pembangunan dan penyerapan tenaga kerja. Sementara itu, pada sisi ekspor, kemajuan investasi akan menggenjot laju pertumbuhan ekonomi secara lebih stabil. Disisi lain, persoalan sumber daya manusia (SDM) yang kompeten sebagai operator bisinis juga turut mempengaruhi alasan banyak investor dunia untuk berani menginvestasikan bisnisnya di Indonesia.

Selama ini yang sering diketahui publik, para investor dunia sering malas berinvestasi di Indonesia bukan hanya karena permasalahan iklim investasi, melainkan juga karena masalah keterbukaan Indonesia terhadap tenaga kerja asing (TKA). Karena tak sedikit para investor yang mengeluhkan soal rumitnya izin tenaga kerja asing yang kesulitan mengambil visa kerja di Indonesia.

Persyaratan dan prosedur yang semakin ketat, berubah-ubah, hingga pengawasan yang semakin ketat terhadap orang asing menjadi pertimbangan kenyamanan bagi investor asing untuk berinvestasi di Indonesia. Pemerintah Indonesia sejauh ini sudah menerbitkan Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 20/2018 tentang Penggunaan Tenaga Kerja Asing pada 26 Maret 2018 dengan maksud peningkatan investasi. Tapi hal ini sering menjadi polemik besar ditengah masyarakat karena dianggap melawan konstitusi UUD 1945 yang menjadi dasar kuat perlindungan tenaga kerja dalam negeri.

Dimasa kelesuan ekonomi akibat pandemi Covid-19, kita tak dapat menampik bahwa hadirnya investor asing merupakan hal penting bagi Indonesia. Banyak sektor penting di Indonesia yang membutuhkan bantuan dana segar seperti halnya dalam pengembangan sektor properti, transportasi,kuliner dan pariwisata. Masuknya pemodal asing ke Indonesia untuk investasi jelas akan membut stimulus ekonomi Indonesia dapat tumbuh berkembang secara baik. Tapi tentu saja sistem investasi dan bisnis tersebut harus terkoordinasi secara baik dengan sistem kemajuan ekonomi dalam negeri termasuk pelindungan dan pemajuan kompetensi tenaga kerja dalam negeri.

Ditengah kelesuan ekonomi akibat pandemi Covid-19, kita tentu sangat berharap jika krisis ekonomi ini tak secara besar merampas dan juga menggerogoti secara lama kestabilan ekonomi Indonesia secara besar. Lebih jauh lagi, kita juga berharap supaya krisis ekonomi secara global akibat pandemi Covid-19 ini tak sampai merusak semua sendi pertahanan kehidupan ekonomi di Indonesia. Semoga saja.

Haris Zaky Mubarak, MA
Sejarawan dan Direktur Jaringan Studi Indonesia