Kunci Hanura, Dilan PD Tatap Pilwalkot Makassar

BONEPOS.COM, MAKASSAR - Pasangan Syamsu Rizal MI yang beken disapa Deng Ical-Fadli Ananda, kian percaya diri (PD) menatap Pilwalkot Makassar tahun 2020.

Hal itu setelah, pasangan yang akrab disebut Dilan kembali mengantongi rekomendasi dukungan partai.

Terbaru, Dilan menerima rekomendasi dalam bentuk format KPU B1-KWK dari Partai Hati Nurani Rakyat (Hanura). Rekomendasi ini melengkapi rekomendasi yang juga sudah diterima sebelumnya dari PKB, PDI Perjuangan, dan PKS.

Dikonfirmasi terkait dukungan yang diterima dari Hanura, Deng Ical menyampaikan terima kasihnya kepada Partai Hanura dan seluruh pengurusnya.

Sebab, ia mendapat kepercayaan Bersama Dokter Fadli Ananda untuk berjuang bersama.

“Makassar ini butuh pemimpin yang memajukan, melestarikan dan melayani,” ucap Deng Ical.

Memajukan, lanjut politikus yang pernah duduk di DPRD Makassar ini, bukan sekadar jargon atau sebatas retorika dan cerita. Akan tetapi, harus nyata dan memang dirasakan manfaatnya oleh masyarakat. Kedua, kata doktor administrasi publik ini, Makassar butuh pemimpin yang melestarikan. Bukan yang merusak. Termasuk merusak tatanan sosial yang sudah baik.

“Berikutnya, Makassar ini butuh pemimpin yang melayani. Bukan yang merasa pintar sendiri dan semua orang lemah sehingga tidak perlu didengar pendapatnya. Makassar butuh pemimpin yang baik, bukan yang pura-pura baik,” tegas Deng Ical.

Oleh karena itu, lanjutnya, Makassar butuh pemimpin yang sombere. Bukan sekadar sombere dalam arti ramah. Tapi sombere dalam arti solidaritas, manusiawi dan beretika.

“Solidaritas karena pemimpin itu tidak boleh meninggalkan rakyatnya dalam situasi apapun dan baru ada saat mau pilkada,” ungkapnya.

Solidaritas juga karena pemimpin tidak boleh meninggalkan teman sendiri apalagi teman berjuang. Solidaritas karena pemimpin itu harus selalu ada, nyata, tidak menang sendiri, apalagi meninggalkan warga dalam kondisi susah, padahal merekalah yang mendudukkannya sebagai pemimpin. Makassar harus dipimpin orang yang menghargai jasa. Sekecil apapun jasa itu.

Berikutnya, Makassar butuh pemimpin yang manusiawi. Karena kota ini dibangun bukan atas pikiran teknokrat semata. Makassar ini memiliki nilai-nilai historis. Juga memiliki nilai-nilai luhur yang senantiasa harus menjadi landasan pikir dan landasan bertindak.

“Yang tidak kalah pentingnya adalah beretika. Karena Makassar ini dibangun atas tatanan etika. Bukan dominan politik sehingga mengabaikan etika. Makassar tidak boleh dibiarkan seperti itu. Makassar harus dibangun, dikelola secara lebih memanusiakan manusia yang ada di dalamnya,” papar Deng Ical.

Untuk itu, ia pun mengajak kepada seluruh warga Makassar untuk Bersama-sama dengan Dilan.

“Saya ajakki semua, Ayo Bersama Dilan; Ayo Maju, Lestari, dan Melayani, sehingga secara Bersama-sama juga memastikan Makassar yang lebih solidaritas, manusiawi dan beretika,” tandasnya. (ril)