Doktor Eri Satriana, Pak Jaksa Tanpa Sekat

BONEPOS.COM, BONE - Singkat, tetapi penuh makna. Demikian pembelajaran yang ditanamkan Dr Eri Satriana selama menjabat Kajari Bone.

Tidak sampai 1 tahun, sekira 10 bulan, Eri Satriana bertugas di daerah berjuluk Bumi Arung Palakka. Selama mengemban amanah sebagai Kajari Bone, banyak memberikan petuah hingga melahirkan terobosan.

Sebagai orang nomor satu di Kejari Bone, Eri merupakan sosok pemimpin yang mudah bergaul. Maka tak heran, memiliki banyak teman.

Bahkan, Eri tak "pelit" ilmu. Buktinya, lelaki kelahiran Mataram tersebut aktif diundang menjadi narasumber pada kegiatan dialog atau diskusi yang dibuat pemerintah hingga mahasiswa.

Kepiawaian Eri menerangkan soal hukum agar mudah dicerna, bukan tanpa alasan. Eri yang bergelar Doktor, juga seorang tenaga pendidik alias dosen. Dalam memberikan pencerahan, tidak sekadar teoritis, juga dibarengi contoh yang mudah dipahami.

***

Di keheningan malam, tiba-tiba hand phone penulis, bergetar. Sontak, mengagetkan. Ternyata, Kajari Bone, Eri Satriana menelpon.

"Ashri, ke rumah ya," ucap Eri Satriana.

"Siap Pak," balas penulis.

Usai mendapatkan undangan, penulis memacu "kuda besi". Tak butuh waktu lama untuk sampai di rumah dinas Kajari. Lokasinya, tidak jauh dari Kejari.

Dari luar rumah dinas, kondisinya terlihat lengang. Hanya saja, memang ruang depan, terlihat terbuka dan lampu menyala.

"Sini Sri, masuk," ajak lelaki kelahiran 24 November 1967.

Penulis memarkirkan "kuda besi" dan bergegas menuju ke dalam.

Obrolan yang terjadi tak lepas perkara hukum. Ya, Eri mengabdikan diri sekaligus memberikan pencerahan penegakan hukum bagi masyarakat Bumi Arung Palakka, dengan tetap profesional, transparan, dan akuntabel.

Penegakan hukum bagi Eri, tidak melulu harus dihukum. Melainkan, lebih banyak melakukan pencegahan dan menerapkan penindakan berimbang, diharapkan masyarakat yang mendapatkan pencerahan hukum bisa memahami dan mengenal hukum lebih dekat. Sehingga sendirinya menghindari permasalahan yang bisa berakibat terjerat sanksi hukum.

Tidak sampai disitu, Eri juga melihat bahwa penegak hukum, dijadikan sebagai sosok yang menakutkan. Padahal tidak. Sebagai orang nomor satu di Kejari Bone kala itu, Eri berusaha mengedukasi masyarakat terkait hukum melalui pendekatan dialog. Siapa pun dan dimana pun.

Tidak sekadar lisan untuk menunjukkan sikap transparansi dan profesional bekerja sebagai jaksa, Eri Satriana, bahkan mendirikan bangunan berupa media center hingga gedung penerima aspirasi. Lokasinya pas di depan kantor.

Di tengah proses penyelesaian bangunan, Eri promosi jabatan. Lelaki Mataram tersebut lulus seleksi jabatan dan mendapatkan amanah sebagai Kepala Biro Hukum dan Komunikasi BPKP RI.

"Silahkan rekan-rekan nanti manfaatkan bangunan tersebut," ucap Eri dengan senyuman khasnya.

***

Rabu (26/8/2020) siang, Eri mengumpulkan awak media di Kantor Kejari Bone. Penulis menyebutnya, santap siang bareng. Usai kampung tengah terisi, kami selanjutnya bergegas menuju Aula Kejari Bone.

Di Aula itu, dengan menerapkan protokol kesehatan, Eri Satriana mengisahkan awal menjabat sebagai Kajari Bone, Oktober 2020. Dia mengaku belum memiliki teman. Perlahan, Eri memperkenalkan diri dalam berbagai kesempatan hingga pertemanan tersebut berubah menjadi tali persaudaraan.

Diakui Eri, mendapatkan kesempatan bertugas di Kabupaten Bone, adalah hal yang berharga bagi dirinya. Berkesempatan merasakan keramahan dan kesejukan masyarakat, pada daerah yang dulunya dikenal sebagai Kerajaan Bone.

"Saya beruntung bisa ke Bone. Datang ke Bone dengan perasaan sendiri Alhamdulillah, pulang dengan banyak saudara," ungkap Eri.

Meski kini tak lagi menjabat sebagai Kajari Bone, Eri Satriana menitipkan pesan agar jalinan silaturahmi agar tidak terputus. Ibarat pepatah jauh di mata, dekat di hati.

Ya, Pak Jaksa tanpa sekat melekat pada pribadi Doktor Eri Satriana. Sosok jaksa sederhana, supel, dan yang pastinya komunikatif. Selamat Pak Eri. (Muhammad Ashri Samad/ril)