Pengusaha Incar Bangun Kampung Daring di Sinjai

BONEPOS.COM, SINJAI - Slamet Riyadi, seorang pengusaha provider jaringan internet mempunyai cita-cita yang mulia, yakni ingin mewujudkan seluruh warga Kabupaten Sinjai hingga ke pelosok desa bisa menikmati akses internet.

Untuk mewujudkan cita-citanya tersebut, Adi panggilan akrabnya mengatakan, kini telah membangun sebanyak 6 tower triangel dan ditargetkan akan membangun sebanyak 15 tower untuk bisa mengcover seluruh wilayah di Kabupaten Sinjai.

"Hanya dengan membeli voucer seharga Rp5.000 sampai Rp50.000 warga yang di pelosok sudah bisa mengakses internet secara unlimited setiap hari," ujarnya.

"Insya Allah, akhir tahun ini target kami sudah terkoneksi semua. Langkah kami mewujudkan kampung daring (online) merupakan bagian dari upaya untuk terus mendorong kemandirian ekonomi bagi warga. Kali ini di bidang telekomunikasi dan informasi dengan bekerja sama dengan pihak ISP Nasional yang menyediakan bandwidth bagi warga," jelasnya.

Lanjut Adi menuturkan, toko atau gerai yang ada di pelosok ditargetkan akan mengelola pembelian voucer untuk membayar bandwidth dan sekaligus menghidupkan usaha warga di desa. Ini bisa meningkatkan kesejahteraan warga desa. Pihaknya yakin dengan kemandirian ekonomi warga dalam memproduksi hasil sendiri sehingga tidak bergantung lagi pada produk dari luar.

"Konsepnya, peredaran uang hanya di desa dan kembali lagi ke masyarakat desa itu sendiri. Prinsip mandiri dimana kita harus bisa memproduksi sendiri dan ini harus menerobos ke segala lini," ungkapnya.

Khusus teknologi dan informasi, menurut Adi langkah ini tidak hanya menekan belanja warga seputar telekomunikasi, tetapi juga sekaligus membuka keterisoliran informasi warga di daerah.

Adi mencontohkan, jika saja terdapat 9.000 nomor aktif, belanja warga pada satu nomor bisa sekitar Rp70.000. Jika dikalikan nilainya cukup besar yakni Rp630 juta. Pihaknya menilai warga tidak menikmati keuntungan yang sepadan, olehnya itu, pihaknya buat untuk berbagi dengan masyarakat di pelosok untuk kemudian perputaran uang beredar di daerah sendiri. Apalagi, dalam perkembangan industri IT, tetap saja keuntungan terbesar hanya dinikmati segelintir orang. (fan/ril)