Bisnis Penerbangan Sakit, Pilot Disarankan Alih Profesi

Kapten pilot Garuda Indonesia Ida Fiqria (kiri) dan kopilot Sari Ardisa (kanan) berpose sebelum lepas landas menuju bandara Minangkabau di bandara internasional Soekarno - Hatta, Tangerang, Banten, Jumat (21/4). Dalam rangka menyambut hari Kartini 2017 pada penerbangan Garuda Indonesia tersebut seluruh awak yang bertugas merupakan perempuan. ANTARA FOTO/Fajrin Raharjo/aww/17.

BONEPOS.COM - Kondisi bisnis penerbangan di Indonesia masih sakit. Pilot disarankan untuk beralih profesi.

Sekretaris Jenderal Indonesia National Air Carriers Association atau INACA Bayu Sutanto menyarankan pilot berpindah profesi untuk sementara waktu. Musababnya, ia menyebut bisnis maskapai masih akan melalu proses pemulihan yang panjang hingga beberapa tahun mendatang.

“Ini pernah terjadi beberapa tahun, dan secara realistis harus sabar menunggu atau pindah profesi. Bagi para pilot, ini fakta,” ucapnya saat mengisi webinar, Jumat, 8 Oktober 2020.

Pasca pandemi virus Corona, bisnis penerbangan terguncang dan Bayu menprediksi sektor ini akan kembali normal empat atau lima tahun mendatang  Lamanya proses pemulihan terjadi karena wabah corona telah mengubah tren mobilisasi masyarakat.

Selama proses pemulihan, manajemen perusahaan penerbangan cenderung akan melakukan upaya-upaya efisiensi untuk mempertahankan usahanya. Misalnya, menurunkan skala bisnis atau down size sesuai dengan marketnya yang terus melorot.

Ia kemudian menyebut, sejumlah pilot di Australia telah mengambil langkah untuk banting setir. Mereka mencari pekerjaan lainnya, seperti menjadi pegawai tetap di instansi pemerintahan.

Sedangkan bagi awak penerbang yang baru lulus, Bayu mengatakan banyak di antaranya memutuskan untuk melanjutkan sekolah. Kondisi ini terjadi karena beberapa perusahaan maskapai telah memutuskan menghentikan sementara operasinya.

Apalagi, pemulihan bisnis maskapai tergantung pada pergerakan manusia. Bila pandemi terus terjadi, okupansi penumpang belum akan sepenuhnya normal karena masyarakat masih menahan perjalanannya.

Kendati dihadapkan dengan situasi wabah, awak penerbangan dinilai tak bisa sepenuhnya mengandalkan bantuan pemerintah. “Sepertinya tidak mungkin pemerintah memberikan fasilitas ke pilot yang baru lulus,” ucap Bayu.