Dilan Paparkan Lima Kunci Keberhasilan Reformasi Birokrasi, Apa Saja Ya?

BONEPOS.COM, MAKASSAR - Calon Wali Kota dan Wakil Wali Kota Makassar nomor urut 3, Syamsu Rizal-Fadli Ananda (Dilan), tampil apik pada Debat Publik Seri II di Jakarta, Selasa (24/11/2020) malam.

Salah satu yang paling menonjol adalah program pasangan doktor dan dokter itu di bidang reformasi birokrasi.

Deng Ical-sapaan akrab Syamsu Rizal, bersama Dokter Fadli-panggilan karib Fadli Ananda, silih berganti memaparkan dan menanggapi program bidang reformasi birokrasi yang memang menjadi salah satu pokok pembahasan dalam debat semalam.

Deng Ical mengungkapkan, ada sederet program reformasi birokrasi yang dicanangkan. Semuanya bermuara pada optimalisasi tata kelola pemerintahan yang efektif, efisien, transparan, akuntabel, dan partisipatif.

Secara konkret, program reformasi birokrasi ala Dilan meliputi Sekretaris Kota (Sekkot) sebagai CEO Birokrasi, penyediaan sistem digitalisasi aset secara terpadu Pemkot Makassar dan redistribusi aparatur ke semua unit pelayanan berbasis dari e-Bank Data Aparatur.

Selanjutnya, Dilan juga akan mengoptimalisasi 14 standar mutu pelayanan dengan mendorong lahirnya Perda Pelayanan Publik, penyediaan aplikasi layanan konsultasi dan sistem aduan warga secara online atau Aplikasi LOSARI dan Klinik Pelatihan Orientasi Pelayanan atau K-POP.

"Secara garis besar kami sudah paparkan dalam debat semalam. Intinya, Dilan sudah menyiapkan berbagai program reformasi birokrasi, salah satunya optimalisasi tupoksi sekretaris daerah atau sekretaris kota sebagai CEO Birokrasi. Lalu, kepemimpinan Dilan akan menjadi dwitunggal," ucap Deng Ical, Rabu (15/11/2020).

Lebih jauh, mantan Wali Kota Makassar itu memaparkan ada lima kunci keberhasilan reformasi birokrasi yang akan dijalankan Dilan.

Pertama, komitmen sinergi antara wali kota dan wakil wali kota, sebagaimana yang disebutnya bahwa kepemimpinan Dilan ibarat dwitunggal.

"Saya punya pengalaman kurang baik sewaktu menjadi wakil wali kota dan itu jadi pelajaran. Tentu, saya tidak akan perlakukan wakil saya seperti apa yang pernah saya alami," tutur pria dengan julukan Sombere'Na Makassar itu.

Kedua, Dilan memastikan peraturan dan kebijakan yang dibuat bukan untuk memproteksi kekuasaan, tapi semata-mata memajukan daerah dan kesejahteraan masyarakat. Ketiga, dukungan unsur pentahelix dan kolaborasi fungsional akan dikedepankan sehingga tidak menjadi pemimpin yang arogan dan sok tahu.

Keempat, Dilan akan membuka ruang kreasi dan inovasi OPD dengan memanfaatkan teknologi komunikasi dan informasi. Terakhir alias kelima, pihaknya akan memperketat mekanisme akuntabilitas dan pengawasan internal dan eksternal.

"Jangan pejabat Pemkot dan ASN takut sama wali kota dan wakil wali kota, tapi yang benar adalah taat dan takutlah pada aturan," tandasnya. (rls)