Efektivitas dan Dampak dari Instrumen Bauran Kebijakan Moneter di Jurang Resesi

BONEPOS.COM, MAKASSAR - Kelompok Studi Pasar Modal (KSPM)-Galeri Investasi STIEM Bongaya Makassar gelar webinar, tema yang diusung, 'Efektivitas dan Dampak dari Instrumen Bauran Kebijakan Moneter di Jurang Resesi'.

Gelaran ini merupakan program Kerja Tahunan, dilaksanakan secara daring (online), Rabu (25/11/2020).

Hadir yang menjadi narasumber dalam gelaran ini adalah Rawindra Ardiansah (Asisten Direktur Kantor Perwakilan BI Provinsi Sulawesi Selatan) serta Dr. Anas Iswanto Anwar, S.E., M.A (Pengamat Ekonomi Universitas Hasanuddin).

Kegiatan ini akan berlangsung mulai pukul 09.00 Wita dan rencananya akan dibuka oleh Dr. Mappamiring P., M.Si selaku Ketua STIEM Bongaya.

Gelaran ini rencananya akan dipandu oleh Dr. Ansir Launtu, S.T., S.E., M.M (Kabag Humas dan Kerjasama STIEM Bongaya).

Tujuan dari kegiatan ini, untuk membedah efektivitas dan dampak dari instrumen bauran kebijakan moneter selama masa pandemi Covid-19, terutama ketika berada di jurang resesi pada TW IV 2020.

Pandemi Covid-19 yang telah terjadi di Indonesia sejak Maret 2020 telah mengubah dan berdampak pada kebanyakan sektor di Indonesia. Sampai saat ini hampir seluruh wilayah di Indonesia terkena dampak Covid-19.

Berbagai daerah di Indonesia sudah merasakan dampak ekonomi dengan adanya pembatasan sosial hal ini dilakukan tentunya bertujuan agar virus ini tidak menyebar. Tak terkecuali yakni sektor perekonomian di Indonesia.  

Hal ini dikarenakan lesunya perekonomian dimana adanya pembatasan sosial sehingga banyak tenaga kerja yang terpaksa harus di PHK  pada beberapa perusahaan.

Selain itu juga banyak UMKM yang harus menggulung tikar karena lesunya daya beli masyarakat.

Hal ini tidak boleh terus terjadi agar Indonesia tidak terjadi resesi yang berkepanjangan. 

Bank Indonesia yang berperan penting dalam kestabilan ekonomi telah mengeluarkan beberapa kebijakan guna memitigasi risiko dampak pandemi Covid-19.

Kebijakan Bank Indonesia yang berbaur dengan pemerintah diharapkan mampu mempercepat proses pemulihan ekonomi. (rls)