Mata Kirinya Membesar, Algazali Firdaus Butuh Uluran Tangan – Bonepos.com Best Automated Bot Traffic

Mata Kirinya Membesar, Algazali Firdaus Butuh Uluran Tangan

  • Bagikan

BONEPOS.COM, BULUKUMBA – Siang itu, Hasnawati baru saja selesai menunaikan salat Zuhur. Tepat di dekat kasur tempat Algazali Firdaus berbaring.

Di kamar 209 perawatan melati RSUD Sultan Dg. Radja itu, Algazali terbaring dengan lemah dan lunglai. Tubuh tak mampu lagi berdiri apalagi hanya sekadar duduk.

Sesekali mata kanannya berkedip, saat itu. Mata kirinya tertutup perban putih yang masih baru. Saat dibuka, sesekali keluar cairan dari belahan kelopak matanya yang membesar.

“Kuat sekali menahan sakit. Tidak pernah mengeluh,” ucapan pertama yang keluar dari mulut Hasnawati, ibu Algazali Firdaus, saat bonepos.com datang berkunjung.

Dia, membeberkan kekuatan batin dan fisik anak lelakinya.

Dengan isak menahan sesak di dada, warga Dusun Buhungluara, Desa Karama Kecamatan Rilau Ale Kabupaten Bulukumba. Hasnawati berusaha dengan kuat menceritakan tentang apa yang dialami anaknya yang baru berusia lima tahun itu.

Awalnya terjadi saat Algazali berumur dua tahun. Di bola mata kirinya terdapat titik putih biasa.

Namun setelah satu tahun, titik putih itu menutupi seluruh bagian mata Algazali.

Baca Juga  Penyerangan Sekretariat PC Bulukumba, PB PMII Buka Suara

“Setelah itu, tumbuh dan bengkak matanya. Seperti mata buaya. Besar,” kenang Hasnawati sambil mengusap air matanya.

Kemudian kata Dia, lama kelamaan mata kiri Algazali semakin membesar dan membengkak. Kelopak matanya memanjang hingga menutupi seluruh bagian mata. Dan selalu ada cairan yang keluar dari mata kirinya.

Namun ketika itu, Al masih tetap melakukan semua aktifitas seperti biasa. Masih bermain, masih mengaji, dan masih rajin ke masjid untuk ikut salat berjamaah.

Meski dengan keadaan mata kirinya yang membengkak.

Selain itu, kata ibunya, Al termasuk anak yang baik dan rajin membantu orang tua.

“Rajin mencuci piring. Biasa juga menyapu. Mengerti sekali dengan keadaan,” ungkapnya.

Saat awal pandemi merebak, Al nama akrabnya, mengalami koma selama tiga hari di rumahnya.

Namun karena PSBB waktu itu, tidak ada yang berani keluar rumah untuk memeriksakan Al ke rumah sakit.

“Tapi tiba-tiba setelah tiga hari koma, saya coba buka matanya pelan-pelan. Alhamdulillah bangunki,” curhatnya.

Baca Juga  Gardu Terdampak Banjir Jeneponto dan Bantaeng Kembali Normal, YBM PLN Salurkan Bantuan

Hasnawati yang bekerja sebagai pedagang sayur di Pasar Sentral Bulukumba itu, langsung membawa Algazali untuk diperiksa. Karena khawatir dengan keadaan mata kiri anaknya yang semakin hari semakin parah.

Kata ibu tiga anak ini, dokter tidak menjelaskan secara detail penyakit yang diidap Al. Hanya memberikan obat melalui cairan infus. Makannya pun harus dibantu melalui selang yang masuk lewat hidung.

Perempuan 30 tahun itu bilang, dokter menyarankan agar Al dirujuk ke Makassar.

Namun, karena keterbatasan biaya, Al masih mendapat pengobatan di rumah sakit dengan proses perawatan yang berlaku umum.

“Saya baru urus SKTMnya di kantor desa. Karena tidak ada BPJS. Kalau selesai mi itu baru dirujuk,” ceritanya.

Suaminya, Firdaus (40) hanya bekerja sebagai supir mobil yang tidak seberapa hasilnya. Hanya cukup memenuhi kebutuhan sehari-hari. Apalagi dengan menghidupi tiga orang anak.

“Al anak ke dua, kakaknya umur 8 tahun. Adeknya baru maasuk 2 tahun,” sebutnya.

Kini Hasnawati terus berdoa. Agar mukjizat terjadi dalam keluarganya. (kia/ril)

Temukan Kami:
  • Bagikan