Stok Minim, Ibu di Bulukumba Meninggal Operasi Kekurangan Darah – Bonepos.com Best Automated Bot Traffic

Stok Minim, Ibu di Bulukumba Meninggal Operasi Kekurangan Darah

  • Bagikan

BONEPOS.COM, BULUKUMBA – Masih awal tahun 2021. Namun, Kabupaten Bulukumba, Sulawesi Selatan, telah menyumbang kematian ibu. Penyebabnya, lagi-lagi karena kekurangan stok darah.

Ibu yang meninggal itu bernama Sumrah (33), warga desa Bontonyeleng, Kecamatan Gantarang, Kabupaten Bulukumba.

Korban melahirkan anak pertama berjenis kelamin laki-laki. Meski akhirnya harus menghembuskan napas terakhir.

Salah seorang kerabat Sumrah, inisial ND (31) mengaku syok mendengar kabar berpulangnya Sumrah.

Dia menganggap dalam proses persalinan, dokter terkesan memaksakan kekuatan pasien. Sebab, seluruh keluarga berharap pasien bisa bersalin dengan proses SC karena riwayat janin yang besar.

“Ibunya lahiran normal padahal harusnya sesar. karena besar janinnya, apalagi anak pertama,” resahnya saat dikonfirmasi Bonepos.com, Kamis (4/2/2021).

ND bilang, Sumrah meninggal setelah kehabisan darah karena terlambat mendapat transfusi. Setelah menjalani operasi pengangkatan rahim pasca melahirkan.

Baca Juga  KALLA-PMI Makassar "Mesra", Gaungkan Partisipasi Donor Darah

“Jadi dokter lakukan proses lahiran normal dengan bantuan vacum sebanyak 2 kali. Sampai robek rahimnya,” jelas ND.

Saat dikonfirmasi, Pelaksana Tugas (Plt) Direktur Rumah Sakit Andi Sultan Dg Radja Kabupaten Bulukumba, dr. Risal SpOG mengakui hal itu. Kata dia, pasien memang meninggal karena terlambat mendapatkan transfusi darah.

Penyebab perdaharan diakibatkan karena atonia uteri, atau proses perdarahan pasca bersalin. Keadaan dimana tidak adanya kontraksi pada rahim sehingga pembuluh darah terbuka.

“Jadi pasien itu butuh transfusi darah sebanyak 8 kantong, sebelum meninggal. Dia meninggal karena kehabisan darah,” bebernya

Dr Risal bilang, pasien masuk Rabu (3/2/2021) pukul 16.00 Wita, dalam keadaan pembukaan lengkap. Kemudian janinnya lahir normal pukul 18.00 Wita. Setelah itu, sekira pukul 19.00 pasien mengalami perdarahan pasca bersalin. Lalu, Kamis (4/2/2021) pukul 01.30 Wita pasien meninggal karena kehabisan darah.

Baca Juga  HUT TNI Ke-75, Danrem Toddopuli Sumbang Darah

“Janin dan plasenta lahir lengkap dan lancar. Tapi setelah itu tiba-tiba tidak ada kontraksi rahim. Sehingga pembuluh darah terbuka dan terjadi perdarahan hebat,” jelasnya.

Setelah melakukan informed consent kepada keluarga pasien. Akhirnya dokter memutuskan untuk melakukan pengangkatan rahim dengan tujuan menghentikan perdarahan. Dengan modal stok darah yang minim.

“Dari kebutuhan darah sebanyak 8 kantong, ibu hanya mendapat transfusi sebanyak 2 kantong,” ucapnya.

Dan, naas setelah proses operasi pengangkatan rahim sukses dan perdarahan teratasi, darah yang dibutuhkan ibu malah tidak terpenuhi sehingga terjadi kematian. (kia/ril)

Temukan Kami:
  • Bagikan