Warga Takalar Meninggal Usai Divaksin, Ini Kata Pakar Kesmas Unhas – Bonepos.com Best Automated Bot Traffic

Warga Takalar Meninggal Usai Divaksin, Ini Kata Pakar Kesmas Unhas

  • Bagikan

BONEPOS.COM, TAKALAR – Kematian Sulaeman menggegerkan masyarakat, khususnya di lingkup Dinas Kesehatan Provinsi Sulawesi Selatan.

Pakar K3 Fakultas Kesehatan Masyarakat (FKM) Universitas Hasanuddin (Unhas) Yahya Thamrin MOHS, Ph.D., menjelaskan, kematian Sulaeman harus ditelusuri lebih mendalam, terkhususnya hasil diagnosa hingga riwayat penyakit korban.

“Jadi waktu kejadian itu Pak, didiagnosa, apakah dia meninggal dunia karena covid atau mungkin ada penyakit yang lain,” kata Yahya kepada wartawan saat diwawancara, Selasa (23/3/2021) malam.

Sementara saat ditanya soal epidemiologi, ia menjelaskan, ada tiga hal yang menjadi perspektif.

“Kalau perspektif epidemiologi itu, perspektifnya itukan terkait tiga hal Pak, orang, tempat, dan waktu pak, yah karakteristik orangnya itu, bagaimana, apakah umurnya berapa, jenis kelaminnya apa, kemudian apa kemungkinan risikonya, dia mengalami, katakanlah masalah kesehatan, kalau sekarang kan sudah meninggal yah, jadi yah harus diurai dulu karakteristik risikonya itu, itu dari segi orang,” paparnya.

Kendati demikian, pengakuan anak korban, Mahmud (20) bahwa selama masa hidup ayahnya dalam kondisi sehat walafiat, bahkan setelah menjalani vaksinasi pada 15 Maret 2021 baru-baru ini juga masuk kantor.

Yahya menjelaskan, tahap proses vaksinasi itu dilakukan dengan berbagai syarat, seperti screaning dengan diajukan beberapa pertanyaan sebelum akhirnya bersyarat untuk dilakukan vaksinasi.

“Itu dicek screaningnya, karena sebelum divaksin itu setiap orang di screaning ada 16 pertanyaan itu yang diajukan ke dia (setiap peserta, red). Apabila ada salah satunya Ya dari 16 pertanyaan itu maka harusnya itu beliau tidak divaksin. Jadi harus ditelusuri itu, untuk pendekatan Epidemiologinya kita harus telusuri itu pak dia (korban, red) punya istilahnya depression, dia punya riwayat (atau tidak, red),” bebernya.

Baca Juga  Disuntik Vaksin Dosis Kedua, Begini Perasaan Kapolres Iwan

Persyaratan untuk screaning dalam tahap vaksinasi juga dipersyaratkan untuk tidak ada riwayat atau gejala penyakit yang diderita.

Bahkan, tekanan darah, hingga penderita gula, demam dan flu juga tidak diperbolehkan untuk mengikuti tahap vaksinasi.

Menurutnya, jika yang bersangkutan atau peserta yang memiliki riwayat atau gejala itu, bisa saja menjadi risiko.

“Jadi di 16 pertanyaan itu pak itu pada saat divaksin tidak boleh tekanan darah di atas, tidak boleh hipertensi yah, kemudian gula darah itu tidak boleh di atas 200, kemudian tidak boleh ada infeksi akut, tidak boleh ada flu, atau demam berat atau batuk-batuk dan sebagainya pada saat divaksin sebelum divaksin, apabila ada gejala itu seperti itu, berarti tidak melewati screaning dengan benar,” papar Yahya Thamrin.

Sebagaimana diketahui, bahwa program vaksinasi ini bertujuan untuk meningkatkan daya imun tubuh.

Selain itu para peserta juga harus menjawab pertanyaan-pertanyaan para petugas screaning sebelum masuk di tahap vaksinasi.

“Itu harus menjawab dengan jujur pak, harus dia ungkap dia punya keadaan dengan jujur tidak boleh dia tutupi, karena vaksin itu adalah upaya meningkatkan imunitas yah, dan itu adalah virus yang dilemaskan. Yang jadi masalah itu kalau misalnya ada divaksin itu kemudian virusnya korban, virusnya kemudian lagi tidak aktif pada saat itu kemudian ketika masuk dalam tubuh, maka dia baru aktif, itu masalah lain oleh karena itu, untuk menjaga risiko berat seperti ini, maka harus dia lewati screaning dengan baik, dia harus mengungkap itu kondisinya dengan jujur, kalau misalnya ada 16 pertanyaan yang dia tidak memenuhi syarat harus memang dia ungkapkan,” tandasnya.

Baca Juga  Pelayan Publik Disuntik Vaksin Covid-19, Siapa Saja?

Diketahui, saat ini pihak Dinas Kesehatan Provinsi Sulawesi Selatan (Diskes Sulsel) akan menurunkan Tim Independen pada Rabu (24/3/2021), atas kematian Sulaiman (50) warga Jonggoa Desa Batu-batu, Kecamatan Galesong Utara, Kabupaten Takalar yang diduga meninggal usai menjalani vaksinasi Covid-19, Selasa (23/3/2021).

Hal itu dikatakan Kepala Bidang (Kabid) Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinas Kesehatan (Dinkes) Sulsel dr Nurul AR dan mengungkapkan pihaknya sudah memonitor kasus tersebut.

“Kemungkinan besok. Jadi, Tim Independen yang melakukan investigasi kasus-kasus ini, kita sudah proses. Data-data kita sudah dapat beberapa. Tetapi, Tim akan turun insya Allah,” kata dr Nurul saat dihubungi wartawan.

Menanggapi kasus kematian warga Takalar yang diduga akibat vaksinasi Covid-19. Kabid P2P Diskes Sulsel tersebut menuturkan tetap menunggu hasil dari Tim Independen.

“Tim Independen yang menilai kasus ini, apakah itu ada hubungan dengan vaksin atau tidak. Kita tunggu saja hasil tim investigasi dari Tim Independen. Kita sudah ada prosedurnya, dari Tim. Kemudian diaudit lagi kembali dengan Komnas. Tunggu saja hasilnya 2 atau 3 hari lagi,” sebutnya. (*)

Temukan Kami:
  • Bagikan