Ada Tiga Sifat dalam Layanan Islami di Bulan Ramadan, Apa Saja? – Bonepos.com Best Automated Bot Traffic

Ada Tiga Sifat dalam Layanan Islami di Bulan Ramadan, Apa Saja?

  • Bagikan

BONEPOS.COM, MAKASSAR – Hari kedelapan Pesantren Ramadan Virtual UMI membahas “Tiga Sifat dalam Layanan Islami di Bulan Ramadan” oleh Wakil Rektor 2 UMI Prof.Dr.H.Salim Basalamah,SE, M.Si, Selasa (20/4/2021).

Hadir sejumlah dosen dan mahasiswa serta calon mahasiswa baru UMI, dipandu Host Dr.M.Ishaq Shamad dan Dr.Nurjannah Abna.

Prof.Salim Basalamah menjelaskan, ada tiga hal yang perlu diterapkan dalam melayani mahasiswa di UMI, yakni sifat wara’, yakni sifat yang sederhana, tidak sombong dalam memberikan layanan, sebab mahasiswa ibaratnya adalah raja yang dilayani, tanpa mahasiswa, maka tidak ada pelayanan di kampus.

Selanjutnya sifat qanaah, yakni merasa cukup denga napa yang sudah dimiliki, sehingga tidak ada ambisi untuk mendapatkan yang lebih.

“Tetapi sebaliknya sifat ketiga yang selalu bersyukur terhadap apa yang telah diperoleh, mensyukuri nikmat Allah Swt, akan ditambah nikmat oleh-Nya,” jelasnya.

Host Dr.M.Ishaq Shamad menambahkan, jika sifat wara’ sangat penting dalam menjalankan ibadah puasa, sebab dengan begitu, akan menghindarkan kita segala perbuatan yang dapat menjerumuskan ke dalam dosa.

Baca Juga  Kapal Canggih, Kado Basarnas Makassar di Usia 48 Tahun

“Puasa mendidik kita untuk mampu menahan diri dari segala godaan yang mengarah kepada sifat-sifat yang tercela. Namun ada pengembangan makna dan implementasi dari sifat wara’ ini, jika dulu para Sufi mengartikan wara’, artinya meninggalkan kehidupan duniawi, tidak mengejar harta dan jabatan,” tuturnya.

Namun sekarang makna wara’, diartikan memiliki sikap yang tidak meninggalkan kehidupan dunia dan jabatan, tetapi ia tidak diperbudak oleh harta dan jabatan. Malah dengan harta dan jabatan yang ia peroleh, digunakan untuk membantu sesama dan berada di jalan Allah Swt.

Diceritakan dalam sejarah salah satu sahabat Nabi, Abdurrahman bin Auf, dikenal kaya, dan ia mau jatuh miskin dengan menggunakan hartanya membeli kurma busuk, tetapi ia gagal jatuh miskin, karena kurma busuk sangat laku dibeli dari negara tetangga yang sangat membutuhkannya untuk pengobatan.

Baca Juga  Munas XIII ISMPI Resmi Dibuka WR III UMI, Begini Tantangannya

“Oleh karena itu, tidak apa-apa menjadi orang kaya dan pejabat, tetapi hati dan pikirannya tetap menegakkan keadilan dan kebaikan untuk umat dan kemanusiaan,” paparnya.

Host Dr.Nurjanna Abna menambahkan, salah satu ciri orang yang wara’, adalah memakan makanan dan minuman yang halal, dan ia menghindari hal-hal yang syubhat (tidak jelas halal-haramnya).

Dikomentari oleh Dr.M.Ishaq Shamad tentang seorang ulama besar bernama An Nukman yang melihat buah apel hanyut di Sungai. Ia kemudian mengambilnya, tetapi sebelum buah apel itu dimakan, terlebih dahulu ia menemui pemilik kebun apel tersebut dan meminta halalnya.

“Namun pemiliki kebun tersebut sangat terkesan dengan adab dan akhlaq an Nukman, sehingga ia memintanya untuk menikahi putrinya, jika buah apel tersebut mau dihalalkan, dan akhirnya dinikahi. Ini memberi pembelajaran bagaiman seorang ulama menjaga diri dari memakan makanan yang tidak halal,” ungkapnya. (*)

Temukan Kami:
  • Bagikan