Ricuh, Eksekusi Lahan di Takalar, Begini Kronologinya – Bonepos.com Best Automated Bot Traffic

Ricuh, Eksekusi Lahan di Takalar, Begini Kronologinya

  • Bagikan
Foto: Warga bersikeras melakukan perlawanan saat akan dilakukan eksekusi lahan di Kabupaten Takalar, Sulawesi Selatan. (SYAHRUL/BONEPOS.COM)

BONEPOS.COM, TAKALAR – Eksekusi tanah di Kabupaten Takalar, Sulawesi Selatan, berlangsung ricuh. Warga yang tidak terima rumahnya dibongkar itu bersikeras melawan petugas keamanan.

Kericuhan ini tidak sempat lagi diredam oleh aparat kepolisian saat alat berat yang akan merubuhkan rumah penduduk itu masuk untuk melakukan eksekusi lahan.

Eksekusi tanah ini berlangsung di Desa Boddia, Kecamatan Galesong, Kabupaten Takalar, Sulawesi Selatan.

Salah seorang warga, Malli daeng Lewa mengatakan, eksekusi lahan ini dilakukan atas dasar permohonan termohon melalui kuasa hukum bernama Syamsuardi.

“Eksekusi ini dilakukan atas dasar permohonan dari pemohon eksekusi melalui kuasa hukumnya, Syamsuardi dan kawan-kawan,” kata Daeng Lewa kepada wartawan di lokasi, Rabu (7/7/2021).

Baca Juga  Duh! Ada Lagi Bangkai Lumba-lumba Terdampar di Pesisir Pantai Takalar

Kasus lahan tempat eksekusi yang berlangsung ricuh antara polisi dan warga ini ditengarai telah bergulir sejak tahun 2017 silam di Pengadilan Negeri (PN) Kabupaten Takalar.

“Kemudian perkara ini bergulir dari tahun 2017 di PN Takalar, sampai tingkat PK. Jadi ini ada beberapa putusan, lain PT, PN, Kasasi, dan terakhir PK, setelah itu dilakukanlah permohonan eksekusi,” jelasnya.

Dalam peristiwa eksekusi lahan ini, warga dan polisi yang terlibat langsung dikabarkan beberapa diantara mereka mengalami luka.

Warga setempat yang tak ingin rumahnya dieksekusi pembongkaran paksa ini terus melawan. Tampak dalam peristiwa ini didominasi para ibu rumah tangga yang bersikeras menolak terjadinya eksekusi lahan.

Baca Juga  Tanpa Identitas, Mayat Pria Ditemukan di Bibir Pantai Takalar

Banyaknya warga membuat para petugas kepolisian ini mengambil langkah tegas, bahkan polisi sempat mengeluarkan tembakan gas air mata.

Saat mobil ekskavator akan mengeksekusi rumah warga, ibu rumah tangga justru melakukan penghadangan, beberapa diantaranya bahkan berdiri tepat di depan mobil untuk menahan berlangsungnya pengekeskusian ini.

Informasi yang dihimpun, setidaknya ada sembilan unit rumah menjadi korban pengeksekusian. Lokasi ini yang dieksekusi ini juga ditengarai salah objek.

Objek yang dimenangkan penggunggat itu disebut telah hilang akibat dampak abrasi yang terus terjadi di wilayah itu. (*)

Temukan Kami:
  • Bagikan