BONEPOS.COM, BONE – Kasus rudapaksa anak di bawah umur di Kecamatan Cenrana, Kabupaten Bone, Sulawesi Selatan memasuki babak baru.

Salah satu warga Cenrana angkat bicara. Dia menyebut, dua saksi kasus tersebut dikeroyok oleh sejumlah pemuda.

“Inisial IS dipukul sebelum pergi bersaksi dan inisial AMR dianiaya setelah bersaksi di Mapolres Bone,” ungkap warga yang meminta identitasnya dirahasiakan dengan alasan kemanan saat ditemui Bonepos.com, Rabu (1/3/2023).

“Kasus ini sudah dilaporkan di Mapolsek Cenrana namun hingga saat in. belum ada kejelasan. Timbul pertanyaan, kenapa saksi ini dipukul? Ada apa?” Tanyanya.

Ia juga menyebut, sebelumnya seorang oknum TNI pernah masuk ke sekolah Madrasah korban dan tersangka untuk mengintrogasi tersangka.

“Setelah TNI itu masuk ke sekolah, maka opini berkembang bahwa yang ditangkap inilah betul pelakunya. Padahal yang ditahan ini tidak pernah mengakui hal itu bahkan tak tahu-menahu,” katany.

Terkait voice note yang beredar itu, yang menjadi barang bukti hingga tersangka ini ditahan, menurut dia itu cuma candaan.

“Itu di group teman-temannya. Mana mungkin kalau dia yang melakukan berani berkata jujur begitu, apa lagi di grup,” imbuhnya.

Ia menambahkan, tersangka yang ditahan tersebut merupakan seorang hafiz Al Qur’an.

“Saya dari jenguk, dia mengajar ngaji salah satu tahanan dari Jalan Andi Pangeran. Tersangka ini dua bersaudara, dia anak tertua, dia biasa jalan kaki ke sekolah. Siapa bilang orang tuanya jarang menemuai dia, orang tuanya sering datang, di siniji tahun baru. Adiknya ikut sama orang tuanya. Kenapa dia tidak dikasi ikut, karena kerjaannya tidak menetap. Kalau ikut, pasti pindah-pindah sekolah,” tutupnya. (Abdul Muhaimin)