BONEPOS.COM, NEW YORK – Wakil Sekretaris Jenderal Partai Amanat Nasional (PAN) Fikri Yasin mengungkapkan salah satu hasil pertemuan antara Ketua Umum PAN Zulkifli Hasan dan Ketua Umum Partai Golkar Airlangga Hartarto┬ádi Amerika Serikat (AS) adalah membahas soal skenario maju bersama pada kontestasi politik 2024.

Fikri mengatakan skenario itu muncul usai terjadi ‘perdebatan’ di internal PAN. Keduanya dijagokan maju lantaran PAN dan Golkar bisa mendaftarkan capres dan cawapres sendiri usai mengantongi 22,43 persen atau telah melewati syarat ambang batas 20 persen dari jumlah kursi DPR.

“Tentu membahas soal capres 2024. Membahas skenario baru, kenapa PAN dan Golkar tidak kita mengusung sendiri?. Kemudian kita kaji skenario itu. Misalnya asumsinya Ganjar satu pasang, Anies satu pasang, lalu Prabowo satu pasang, kenapa kita tidak mengajukan juga?,” kata Fikri dikutip dari CNNIndonesia.com, Jumat (26/5/2023).

Dengan skenario itu, maka Fikri menilai potensi Pilpres 2024 dua putaran akan semakin besar terjadi. Kendati demikian, PAN hingga saat ini menurutnya masih membuka peluang untuk mendukung Prabowo Subianto maupun Ganjar Pranowo.

PAN menurutnya masih terus mengkaji tiga skenario Pilpres 2024 yang saat ini mereka kantongi. Pertama, mendukung Prabowo; kedua, mendukung Ganjar; dan ketiga memasangkan Airlangga-Zulhas. Fikri pun mentargetkan dalam waktu dekat PAN mampu mendeklarasikan sosok capres yang akan mereka usung.

“Memang semuanya itu akan dikaji matang semua sisi. Tetapi memang kita sih berharap dalam awal-awal bulan Juni itu ada keputusan agar kita segera menentukan sikap agar kader di seluruh Indonesia mendapatkan┬ákepastian sosok capres,” ujarnya.

Adapun pertemuan antara Zulhas dan Airlangga di AS itu juga menjadi pertemuan mereka dengan kapasitas sebagai Menteri Koordinator Bidang Perekonomian dan Menteri Perdagangan.

Keduanya menghadiri pertemuan Indo-Pacific Economic Framework Ministerial Meeting (IPEF-MM) di Amerika Serikat (AS). Rombongan Indonesia tiba di AS pada Kamis (25/5/2023).

IPEF mewakili lebih dari 40 persen ekonomi dunia dan 28 persen perdagangan barang dan jasa secara global. Tujuannya adalah untuk mencapai kerangka ekonomi berstandar tinggi dan inklusif di negara-negara kawasan Indo-Pasifik.