BONEPOS.COM, WASHINGTON – 1 Juni yang dikatakan menjadi hari “X” bagi Amerika Serikat (AS) semakin dekat. Pelaku pasar pun mulai terlihat panik dan menjual surat utang AS (Treasury) yang masif.

Dilansir dari CNBC Indonesia, Rabu (31/5/2023), hari “X” merupakan saat uang yang dimiliki Amerika Serikat habis sehingga tidak bisa memenuhi kewajiban membayar bunga dan pokok utang. Artinya Amerika Serikat akan mengalami “kebangkrutan” atau default (gagal bayar).

Hal tersebut membuat pemegang Treasury menjadi was-was, dan langsung menjualnya. Hal ini terlihat dari pergerakan imbal hasil (yield) Treasury yang terus menanjak di semua tenor dalam 3 pekan terakhir.

Untuk diketahui, pergerakan yield berbanding terbalik dengan harga obligasi. Ketika yield naik, artinya harga obligasi sedang turun. Ketika harga obligasi turun artinya sedang ada aksi jual di pasar.

Yield Treasury tenor 2 tahun misalnya, pada perdagangan Kamis (26/5/2023) lalu, mengalami kenaikan 16,7 basis poin menjadi 4,51%. Level tersebut menjadi yang tertinggi sejak 10 Maret lalu. Dalam tiga pekan, kenaikannya mencapai 58,8 basis poin.

Kemudian tenor 10 tahun, kemarin tercatat naik 9,6 basis poin ke 3,815%, dalam 3 pekan sudah melesat 36,9 basis poin.

Aksi jual ini berisiko terus berlanjut dan semakin masif hingga pagu utang dinaikkan.

Apalagi, Lembaga Fitch Ratings saat ini sudah memberikan peringatan ke Amerika Serikat jika peringkat kreditnya bisa diturunkan.

Fitch menempatkan AS pada peringkat “AAA”dengan “rating watch negative,” menandakan bahwa peringkat utang AS dapat diturunkan jika tidak ada kenaikan pagu utang.

Masalah pagu utang sudah menjadi perhatian Fitch dalam beberapa bulan terakhir.

“Kami lebih khawatir kali ini,” kata James McCormack, kepala pemeringkat obligasi global Fitch’s, dalam sebuah wawancara dengan CNN International awal Maret lalu.

Dengan masalah pagu utang yang berulang, McCormack melihat pelaku pasar akan menilai kembali apakah Treasury benar-benar risk-free.

Selain itu jika dilihat yield Treasury tenor 2 tahun lebih tinggi ketimbang tenor 10 tahun. Ini artinya mengalami inversi, seharusnya tenor jangka panjang yield-nya lebih tinggi.

Inversi terjadi ketika para pelaku pasar melihat perekonomian Amerika Serikat akan mengalmai banyak masalah dalam waktu dekat, sehingga imbal hasil yang diinginkan jika memegang Treasury harus lebih tinggi.

Inversi ini juga merupakan sinyal akan terjadinya resesi di Amerika Serikat. Berdasarkan data The Fed San Francisco, sejak tahun 1955 hingga 2018, inversi sudah terjadi sebanyak 10 kali. Dan sejak tahun 2018 hingga saat ini inversi terjadi 2 kali. Sehingga total sejak 1955 hingga saat ini sudah terjadi 12 kali inversi.

Inversi terakhir kali terjadi pada tahun 2019, sebelum terjadinya pandemi Covid-19, juga disusul dengan terjadinya resesi.

Kemudian pada April tahun lalu inversi mulai terjadi selama beberapa kali hingga saat ini.

Riset dari The Fed San Francisco yang dirilis 2018 lalu menunjukkan sejak tahun 1955 ketika inversi yield terjadi maka akan diikuti dengan resesi dalam tempo 6 sampai 24 bulan setelahnya. Sepanjang periode tersebut, inversi yield Treasury hanya sekali saja tidak memicu resesi (false signal).