oleh

Inspiratif! Catatan Perjalanan Hidup Wakil Ketua DPRD Sulsel Bikin Haru (Hadir dalam Nurani dan Narasi #1)

Oleh:

H. Yusran Sofyan, SE.,M.Si

*Wakil Ketua DPRD Sulawesi Selatan

BONEPOS.COM – Puluhan tahun yang silam, saya tumbuh dan berkembang sebagai anak muda di daerah Maccini Makassar. Lorong atau gang-gang sempit tidak asing bagiku.

Daerah yang dikenal rawan oleh kenakalan remaja menjadikan hal-hal beraroma kriminalitas juga sering saya jumpai. Dengan pergaulan yang apa adanya, “bak jalan tanpa pembatas…” saya memiliki cukup banyak teman.

Saat itu saya menjalani pendidikan di SMP Muhammadiyah 1. Beberapa teman sebaya di lingkunganku kala itu, kurang semangat ke sekolah, saya tetap semangat untuk bersekolah. Saat di SLTP, mengikuti pengkaderan Ikatan Pelajar Muhammadiyah, dulu namanya Ikatan Remaja Muhammadiyah.

Pengkaderan ini banyak membentuk karakterku pada usia remaja. Bahkan di sekolah, saya bersyukur bisa memperoleh pendidikan agama yang cukup. Hafal dan tulis ayat Al Qur’an diajarkan.

Saat di SLTP, saya sering memasang di dinding dan plafon kamar tidur lembaran berupa tulisan. Tulisan berbagi rumus matematika dan fisika. Juga hukum dan dalil mata pelajaran yang saya senangi.

Berkat keseriusan dan semangat belajar yang baik, predikat terbaik di kelas pun sering kuraih. Dan saya bersyukur pernah mewakili sekolah mengikuti cerdas cermat saat itu. Kesempatan yang cukup langka karena dalam rentang waktu 20 tahun, sekolah kami belum pernah diundang untuk mengikuti cerdas cermat tersebut.

Untuk mewakili sekolah pun melewati seleksi yang sangat kompetitif. Siswa terbaik masing-masing kelas dijaring sampai dipilih dua siswa untuk mewakili sekolah kami. Ini adalah memori terindah saat di SLTP dulu.

Setelah saya menamatkan SLTP di SMP  Muhammadiyah 1. Saya memilih sekolah kejuruan pada STM Pembangunan, sekarang bernama SMKN 5. Saat itu sebenarnya lulus juga di SLTA unggulan. “Bak anak ayam mengikuti induknya “, saya ikut menapaki jejak paman yang sukses bersekolah di sana.

Yusran Sofyan Remaja, Anak Yatim yang Berjuang Mengais Rezeki

Bulan berganti bulan, berjalan seperti biasa sampai akhirnya cobaan hidup menghampiriku. Ayah meninggal dunia di saat baru tahun pertama di SMKN 5. Tepatnya tahun 1995.

Saat menjalani triwulan kedua saat itu. Sepeninggalan ayah, membuat saya mesti menjadi tumpuan utama dalam keluarga. Saya tidak bisa lagi membebani keluarga terkait kebutuhan hidup. Mencari rejeki sendiri adalah jalan untuk bisa tetap hidup seperti biasanya.

Semangat untuk bisa mandiri melekat pada diriku sejak saat itu. Sambil bersekolah, saya jualan koran sebelum dan sesudahnya. Pagi dan malam saya manfaatkan untuk berjualan koran di terminal Panaikang, apalagi di waktu-waktu liburan sekolah. Menjadi anak muda yang mandiri ternyata jadi kebahagiaan tersendiri.

Dengan kemandirian itu, saya lebih mudah berinteraksi pada pergaulan baik di lingkungan keluarga, tetangga maupun sekolah. Tidak tergantung pada orang lain apalagi membebaninya, lambat laun akan melahirkan nilai terhadap diri. Kemandirian bukan berarti hidup sendiri tapi justru lebih mudah menempatkan diri sebagai makhluk sosial.

Saya melakoni sebagai penjual koran kurang lebih setahun. Sehari bisa jualan 30-50 eksemplar. Apalagi kalau beritanya sangat menarik, kontroversial dan hangat jualan bisa sampai 100 eksemplar.

Jualan koran sangat tergantung pada pewarta yang menyajikan berita. Nasib kita banyak tergantung dengan media cetak dan wartawannya karena berita sangat mempengaruhi penjualan.

Dalam mengisi waktu yang kosong selama jualan, berita atau informasi melalui media cetak tidak luput dari bacaaanku. Media cetak seperti fajar, binabaru menjadi bacaan sehari-hari. Majalah tempo dan gatra juga menjadi bacaan kesukaanku.

Berita atau informasi yang telah dibaca memudahkanku berkomunikasi dan berinteraksi di sekolah. Walaupun memang tak satupun teman sekolah yang mengetahui saya berjualan koran kala itu.

Setelah berhenti berjualan koran saya mencoba bekerja di pelabuhan, bukan sebagai buruh tetapi sebagai tallymen. Tugasnya mencatat barang bongkar muat di pelabuhan. Makan siang dan malam bersama buruh di gang-gang sempit sudah hal yang biasa buatku. Bekerja sampai larut malam dan keesokan harinya kembali ke sekolah tidak membuatku letih.

Keseharian, saya melihat karyawan sucofindo dan hakiwa dengan seragam yang rapi berkunjung ke pelabuhan. Di tempat inilah saya menemukan inspirasi baru, dan bertekad setelah menyelesaikan SLTA akan langsung bekerja.

Bekerja di pelabuhan hanya sekitar 9 bulan, karena mesti fokus di sekolah untuk menghadapi ujian akhir saat itu. Dan juga sudah memasuki masa magang di sekolah.

Di sekolah pun, saya sebagai siswa jurusan  Elektronika Komunikasi menjadikan guru dan senior sebagai mentor untuk pendalaman ilmu elektronika dan komputer, terutama praktikum. Itulah sehingga di luar sekolah, saya seringkali menerima servis perangkat elektronik yang bermasalah.

Saya sangat menikmati di tengah perjuangan untuk belajar dan bekerja. Saya sangat bersyukur walaupun dengan aktivitas bekerja, tapi masih bisa berprestasi di sekolah. Dan masih memperoleh beasiswa Supersemar selama 3 tahun berturut-turut.

Diakhir masa sekolah, yang memang beda dengan SLTA pada umumnya karena SMKN 5 belajar selama 4 tahun. Saya semakin memperdalam praktikum dan menambah waktu magang di perusahaan. Mendapatkan honor dan belajar untuk bisa bekerja di perusahaan.

Honor dan tambahan dari servis membuat hidupku berjalan seperti biasanya. Sampai akhirnya setelah dinyatakan lulus dari sekolah. Undangan untuk bekerja di perusahaan akhirnya sampai. Di sinilah kesempatan untuk mewujudkan tekad ku untuk langsung bekerja. Hingga akhirnya saya diterima bekerja di salah satu BUMN yang bergerak di bidang telekomunikasi dan internet walaupun penghasilan yang masih kecil.

Penghasilan itu hanya angka-angka belaka, yang terpenting menapaki mimpi dan mewujudkan tekad untuk bisa lebih baik. Pengalaman bekerja akan menghiasi pengalaman hidupmu. Pengalaman itu akan menjadi goresan dalam sebuah proses pembentukan diri. (*/Bersambung)

Komentar

News Feed