oleh

Desa Ara Tidak Diakui, APMAL Desak Pemerintah Minta Maaf

BONEPOS.COM, MAKASSAR – Penganugerahaan salah satu kekayaan budaya lokal Perahu Pinisi sebagai warisan dunia oleh UNESCO menyisakan kekecewaan yang mendalam bagi masyarakat Desa Ara dan Lembanna Kecamatan Bonto Bahari Kabupaten Bulukumba, Rabu (4/4/2018).

Pasalnya menurut sejumlah tokoh masyarakat daerah tersebut merasa tidak dihargai, pasalnya tidak dilibatkan sama sekali dalam moment bersejarah tersebut.

Hal tersebut, dituntut oleh sejumlah mahasiswa yang mengatasnamakan Aliansi Pemuda dan Mahasiswa Ara-Lembanna (APMAL) yang melakukan unjuk rasa di Kantor DPRD Sulawesi Selatan (4/4) siang tadi.

Koordinator aksi, Reynaldi menuturkan seluruh masyarakat Desa Ara-Lembanna Kecamatan Bonto Bahari sangat kecewa dan tersinggung dibalik penghargaan yang di anugerahkan oleh pihak UNESCO kepada Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan dan Pemkab Bulukumba.

“Saat acara penyerahan sertifikat Pinisi sebagai warisan budaya tak benda oleh UNESCO, masyarakat Desa Ara-Lembanna tidak dilibatkan. Tak hanya itu, dalam website resmi Kementerian Republik Indonesia dan UNESCO tidak tercatat bahwa masyarakat desa Ara merupakan bagian dari sejarah lahirnya perahu Pinisi,” tutur Mahasiswa universitas Mahammadiyah ini.

Lebih lanjut, Renal mengajukan tuntutan kepada Pemprov dan Pemkab Bulukumba untuk bertanggung jawab penuh dan menyampaikan permohonan maaf.

Komentar

News Feed