oleh

Kisah Perantau Asal Lamongan di Palu, Saksi Mata Gempa dan Tsunami Sulteng

BONEPOS.COM, MAKASSAR— Anas Paboli (30) warga Lamongan Jawa Timur yang merantau di Kota Palu turut menjadi saksi mata betapa dahsyatnya Gempa dan Tsunami di Kota Palu, Sulawesi Tengah pada Jumat 28 September 2018 lalu.

Ditemui di Asrama Haji Sudiang Makassar, Sabtu 6 Oktober 2018, Anas sedikit bercerita kronologi ia menjadi korban gempa tsunami hingga pada akhirnya mengungsi ke Kota Makassar.

BNNK BONE

Anas mengungkapkan, pada waktu kejadian bencana alam yang menelan korban jiwa hingga kurang lebih 1.600an orang itu, ia berada bersama keluarganya di daerah Pantaloang Palu.

“Waktu itu saat gempa tsunami saya bersama isteri dan bapak di daerah Pantaloang Palu. Kita baru saja tiba di Palu selama 9 hari merantau untuk berdagang makanan sari laut dan kita baru sehari berdagang,” ujarnya.

Anas mengatakan,ia menyaksikan dengan mata kepala sendiri rumah yang baru ia huni retak karena gempa. Sementara, rumah di sekitar lingkungannya rata dengan tanah.

“Rumah-rumah di bawah pantai semua hanyut rata dengan tanah. Sementara tempat saya berjualan hanya terkena percikan air tsunami. Saya menjual di daerah pelabuhan,” tambahnya.

Seusai kejadian gempa tsunami, Anas, isteri dan bapaknya mengungsi ke Gunung Rombo bersama ribuan pengungsi lainnya. Anas dan keluarga pun memutuskan untuk mengungsi ke Makassar.

“Kesini ke Makassar hanya membawa baju yang kami kenakan, sementara barang benda kami tidak sempat diselamatkan. Secepatnya kalau situasi kondisi sudah normal kami mau balik ke Lamongan,” tandasnya.

Ahmad Rusli

Komentar

News Feed