oleh

OPINI : Malaysia, Kawan atau Lawan

SIKAP antipati warga Indonesia terhadap Malaysia kembali memanas. Sikap itu dipicu oleh pemberitaan media massa tentang meninggalnya seorang TKW asal Indonesia. TKW atas nama Adelina Sau yang berasal dari desa Abi, Kecamatan Oenino, Kabupaten Timor Tengah Selatan, Nusa Tenggara Timur meninggal setelah mengalami penyiksaan fisik dan non fisik oleh majikannya di Bukit Mertajam Malaysia.

Peristiwa ini memiriskan kita sebagai sesama warga bangsa terhadap nasib warga Indonesia yang mencari nafkah di negeri Jiran. Setelah sebelumnya, kita juga disajikan fakta memilukan dengan adanya penangkapan dan deportasi besar-besaran oleh pemerintah diraja Malaysia.

Inilah yang menyulut elemen mahasiswa dan warga di beberapa daerah kembali bergejolak meneriakkan ‘Ganyang Malaysia’. Lalu bagaimana sebaiknya kita bersikap? Akankah kita memposisikan Malaysia sebagai kawan atau lawan?

Pemicu Konflik

Sebagai negara bertetangga, sudah seharusnya Indonesia-Malaysia membina hubungan harmonis dan kerjasama. Bukan menciptakan kondisi yang sebaliknya, yakni saling berkonflik. Pemicu awal memanasnya keadaan ini, berawal dari pemberitaan meninggalnya seorang pembantu rumah tangga asal NTT yang dianiaya oleh majikannya.

Pemberitaan semakin meluas dengan terkuaknya fakta bahwa sang pembantu meninggal lantaran tidak diberi makan dan dipaksa tidur bersama anjing peliharaan sang majikan. Kejadian ini memunculkan kembali memori kelam warga kita terhadap sederetan kasus yang telah menimpa TKI Indonesia di negeri seberang.

Kita masih belum melupakan kasus Nirmalat Bonat yang juga disiksa majikannya. Nasib sama juga dialami Suyanti seorang PRT asal Sumut. Ditambah kejadian yang menimpa Siti Romlah TKW asal Jember. Kita juga masih mengingat kasus meninggalnya Isti Komariah yang dibunuh oleh majikannya sendiri Fong Kong Meng dan Teoh Ching Yen.

Lalu sebelum kasus Adelina, di awal tahun ini pun muncul fakta penyiksaan Sitiyah warga asal Banyuwangi yang juga disiksa majikannya.

Insiden ini lantas memicu gelombang protes dan demonstrasi yang dilakukan oleh berbagai elemen masyarakat dan mahasiswa di berbagai daerah di Indonesia. Aksi protes ini mengingatkan kita pada aksi-aksi protes sebelumnya.

Mereka melontarkan berbagai bentuk tuntutan dan kecaman. Mulai dari tuntutan agar pemerintah Indonesia melayangkan nota protes, putuskan hubungan diplomatik, hingga tuntutan untuk perang. Aksi protes juga diaktualisasikan dalam berbagai bentuk. Mulai dari sweeping terhadap warga Malaysia, hingga pembakaran bendera Malaysia.

Hubungan Menguntungkan Indonesia-Malaysia

Pada dasarnya, Indonesia memiliki hubungan yang erat terhadap Malaysia. Kedua negara memiliki persamaan budaya dan kekerabatan sebagai bangsa Melayu. Banyak warga Malaysia yang merupakan keturunan asal Aceh, Minangkabau, Padang, Palembang, Jawa, dan lainnya.

Bahkan tidak dapat kita pungkiri bahwa Perdana Menteri Malaysia saat ini pun adalah keturunan Bugis-Makassar. Tentu kita mempunyai tanggung jawab untuk memelihara hubungan persaudaraan ini.

Indonesia dan Malaysia juga memiliki keterkaitan yang kuat dalam hal ekonomi dan tenaga kerja. Berdasarkan catatan Dinas Tenaga Kerja, terdapat sekitar 2 juta warga Indonesia yang bekerja di Malaysia.

Sebagian besar diantaranya bekerja sebagai pembantu rumah tangga. Keberadaan TKI ini sangat berdampak positif bagi keuangan negara. Menurut laporan World Bank menyebutkan bahwa TKI menghasilkan remittance sebesar US$ 6.6 Miliar yang merupakan pendapatan negara terbesar kedua setelah migas. Selain tenaga kerja, terdapat pula sekitar 13,000 pelajar dan mahasiwa yang kini sedang menuntut ilmu di Malaysia.

Dalam hal ekonomi, Indonesia dan Malaysia juga saling membutuhkan. Sejak 5 tahun terakhir pemerintah Malaysia telah berinvestasi di 285 proyek di Indonesia dengan jumlah US$ 1.2 Miliar. Sementara itu, jumlah investasi Indonesia di Malaysia sekitar US$ 534 Juta. Kemudian terdapat pula sekitar 1.18 juta wisatawan asal Malaysia yang berkunjung ke Indonesia. Ini adalah jumlah wisatawan terbesar ketiga yang masuk ke Indonesia.

Haruskah Membenci Malaysia?

Kedekatan Indonesia dan Malaysia memang tidak semuanya diwarnai dengan keharmonisan. Sering kali hubungan ini diselingi dengan riak-riak pertentangan dan konflik. Ada ungkapan yang mengatakan bahwa semakin dekat dan erat hubungan suatu negara, maka kesempatan untuk saling berselisih juga tinggi.

Tetapi justru kedewasaan bernegara akan semakin nampak ketika kita mampu menyelesaikan sesuatu masalah dengan tetap mendahulukan semangat persaudaraan. Memang harus diakui bahwa terdapat sejumlah kasus yang dialami TKI di Malaysia.

Namun, tidak serta-merta kita menyalahkan pemerintah Malaysia secara sepihak. Sebaiknya kita menalar lebih jauh, mengapa warga Indonesia tertarik untuk meninggalkan negaranya menuju ke negara lain? Jawabannya tentu karena mereka mengalami kesulitan di negeri sendiri. Mereka ingin bekerja, tetapi lapangan pekerjaan tidak tersedia.

Penguasa di negeri ini, tidak memberikan penghidupan yang layak bagi warga negaranya sendiri. Kekayaan alam negeri ini yang seharusnya dipergunakan untuk sebesar-besarnya kemakmuran rakyat -sebagaimana telah diamanahkan oleh konstitusi- malah dijual kepada pihak asing.

Pemerintah telah membiarkan pihak asing mencuri emas, tembaga dan perak di Papua. Padahal itu adalah cadangan emas yang terbesar di dunia yakni sekitar 86.2 juta ton emas dan 32.2 juta ton tembaga. Begitu pula tersimpan cadangan minyak di Blok Cepu sebesar 2 Miliar barel dan gas sebanyak 11 Triliun kubik.

Belum lagi yang di Nusa Tenggara, Sulawesi, Kalimantan, Mataram, dan daerah lainnya. Sungguh, kekayaan alam Indonesia sudah lebih dari cukup untuk menghidupi seluruh rakyatnya. Sehingga rakyat Indonesia tidak perlu meninggalkan kampungnya untuk mencari sesuap nasi di negeri tetangga.

Oleh karena itu, sudikah kita mengusir warga Malaysia dari negara ini? Padahal mereka menerima saudara-saudara kita dinegaranya untuk berjuang mencari nafkah dan menuntut ilmu. Bukanlah Malaysia yang harus kita perangi dan jadikan musuh. Bukan pula Dubes dan warga Malaysia yang harus kita usir.

Melainkan penguasa-penguasa di negeri ini yang telah menjual kekayaan alam dan menghianati rakyatnya. Para koruptor yang telah menghisap harta rakyat. Penguasa yang perutnya buncit sementara rakyatnya kelaparan dan kurang gizi.

Wallahu A’lam bis showab.

Oleh: Muhammad Rais
Mantan Ketua PPSS Malaysia & Simpatisan Partai Keadilan Sejahtera DPD Bone

Komentar

News Feed