oleh

OPINI : Zakat Sustainable Dengan Teseng

ZAKAT fitrah adalah kewajiban setiap umat muslim yang hartanya telah mencapai nisab. Nisab dalam syariah adalah jumlah batasan kepemilikan harta seorang Muslim selama satu tahun untuk wajib mengeluarkan zakat.

Selanjutnya, menurut Dr. Mahmud Suyuti pakar hadist dari Universitas Islam Makassar bahwa zakat fitrah merupakan pensucian (tuthahhir wa tuzakkihim) bagi orang yang berpuasa, sekaligus sebagai rasa syukur atas karunia-Nya karena bisa menyempurnakan puasa ramadhan.

Juga sebagai kesyukuran atas berbagai nikmat yang telah dilimpahkan selama 1 tahun, diberikan secara terus menerus dan yang paling besartuntutannya adalah nikmat iman dan Islam, jelas Mahmud Suyuti juga sebagai Komisioner Baznas Sulawesi Selatan.

Selain itu, zakat merupakan salah satu dari rukun Islam sebagaimana yang ditegaskan oleh baginda Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam dalam sebuah hadits:

بُنِيَ الإِسْلامُ على خَمْسٍ: شَهادَةِ أَنْ لَا إِلهَ إِلاَّ اللهُ، وأنَّ مُحَمَّداً رَسُولُ اللهِ، وَإقَامِ الصَّلاةِ، وَإيْتَاءِ الزَّكاةِ، وَالحَجِّ، وَصَوْمِ رَمَضَانَ (متفق عليه)

“Islam dibangun di atas lima hal: kesaksian sesungguhnya tiada Tuhan selain Allah dan sesungguhnya Muhammad utusan Allah, melaksanakan shalat, membayar zakat, haji, dan puasa Ramadhan.” (HR Bukhari Muslim)

Kemudian, zakat termasuk salah satu dari ajaran Islam yang ma‘lûm minad dîn bidl dlarûri (ajaran agama yang secara pasti telah diketahui secara umum). Oleh sebab itu, jika kewajibannya diingkari, maka menyebabkan orang yang ingkar menjadi kufur. (Sumber:nu.or.id)

Secara subtansial zakat termasuk kategori kewajiban yang mempunyai dua tinjauan (murakkab), yaitu tinjauan ta’abbudi (penghambaan diri kepada Allah) dan tinjauan sosial.

Tinjauan sosial zakat terlihat pada objek utamanya, yaitu pemenuhan kebutuhan hidup mustahiqqin (para penerima zakat) yang mayoritas masyarakat ekonomi kelas bawah, dan peningkatan taraf hidup mereka, supaya terentas dari kemiskinan, hidup layak, tak sekadar bergantung pada uluran tangan orang lain, dan berbalik menjadi penolong bagi orang lain yang masih berkubang di jurang kemiskinan.Sementara tinjauan ta’abbudi bahwa zakat salah satu rukun islam yang sejajar dengan shalat, puasa, dan haji.

Berdasarkan tinjauan sosial, Penulis berpandangan bahwa zakat harus mampu membangun kemandirian ekonomi bagi setiap penerimanya. Artinya zakat harus dinikmati dalam waktu yang panjang. Bahkan jika bisa, zakat harus memiliki daya dorong untuk mengeluarkan si penerima dari belenggu ke fakirannya.

Namun dalam realitasnya pengelolaan zakat masih jauh dari kata sempurna. Menurut hemat Penulis bahwa saat ini zakat hanya mampu memberi manfaat yang begitu singkat. Hanya sebatas penjanggal perut untuk beberapa hari.

Zakat sustainable adalah solusi bagi pengelolaan dana zakat untuk umat. Tidak hanya menjadi dana habis konsumsi untuk beberapa saat. Manfaat zakat harus dinikmati secara terus-menerus dan berkesinambungan oleh para penerimanya. Bahkan jika bisa dana zakat tidak berkurang dan terus bergulir seperti bola salju yang kian lama semakin membesar.

Manfaatnya mampu mengeluarkan orang fakir (al-fuqara’) dari kesengsaraan hidupnya, hingga memiliki harta, tenaga dan kemandirian untuk menutupi kebutuhan dirinya dan keluarganya.

Begitu pula penerima yang lain seperti Al Masakin (Orang miskin berlainan dengan orang fakir), Al’amilin(panitia zakat),Mualaf (orang yang baru masuk Islam dan belum mantap imannya), Dzur Riqab (hamba sahaya/budak), Algharim (orang yang berutang),Fi sabilillah (orang yang berjuang di jalan Allah/sabilillah), Ibnu Sabil (musafir yang sedang dalam perjalanan).

Sekarang yang harus dijawab ialah bagaimanakah menciptakan pengelolaan zakat sustainable? Apakah ini hanya sekedar wacana atau teori yang hanya bisa sampai dalam bentuk tulisan semata tanpa aktualisasi? Dari segi Sumber Daya Manusia (SDM) mampukah pengelolah zakat saat ini menjalankannya?

Zakat sustainable dapat direalisasikan dengan konsep teseng. Penulis berkeyakinan bahwa teseng sangat ideal dalam mengelolah dana zakat yang berkelanjutan. Kenapa harus teseng? Seperti kita ketahui bersama bahwa zakat adalah dana syariah, olehnya itu pengelolaannya harus sesuai syairah juga.

Salah satu penelitian Penulis terkait “Praktik Ekonomi Islam dalam Suku Bugis Bone” dijelaskan bahwa teseng adalah konsep bagi hasil dalam Suku Bugis Bone (SBB) yang objek ekonominya bisa berupa sawah, sapi, kerbau, kuda hingga kambing.

Standarbagihasildalammappatte’sengsapisesuaidengankesepakatan (Assisamaturuseng) antarapappatte’sengdanpatte’seng.Namun, standar yang lazimdigunakan 1:1.Artinya, apabilasapinyatelahmelahirkanduaanak, makasatuuntukpappatte’sengdansatuuntukpatte’seng.Berbedajikasapinyajantan, dasarbagihasilnyaadalahkeuntunganpenjualanatausebesarkenaikanhargasapisaatpenyerahansapikepatte’seng (Prabowo, 2017: 83).

Mappatte’sengsapi memiliki kesamaan dengan praktik ekonomi Islam yang disebut mudharabah atau bagi hasil.Mudharabah adalah bentuk kerjasama antara dua pihak atau lebih di mana pemilik modal (shahibulamal) mempercayakan sejumlah modal kepada pengelola (mudharib) dengan suatu perjanjian di awal.

Bentuk ini menegaskan kerjasama dengan kontribusi seratus persen modal dari pemilik modal dan keahlian dari pengelola. Dalam mappatte’sengsapi, shahibul amal sebagai pappatte’seng dan mudharib sebagai patte’seng (Prabowo, 2017: 83).

Mudharabah menurut (Syafi’Idalam Al-Jarzani, 1980: juz 3: 44) sebagai suatu akad atau transaksi antara dua orang atau lebih, di antara yang satu menyerahkan harta atau modal kepada pihak kedua untuk dijalan kan usaha, dan masing-masing mendapatkan keuntungan dengan syarat-syarat tertentu.

Teseng dalam pengelolaan zakat sustainable khususnya di Kabupaten Bone yaitu panitia zakat mengalokasikan dana zakat untuk membeli objek ekonomi dalam teseng seperti sawah, sapi, kuda dan kambing kemudian disalurkan kepada para penerima zakat yang mampu mengolahnya.

Selanjutnya dari satu penerima zakat ke penerima zakat yang lainnya, hingga zakat mampu secara terus-menerus dan berkelanjutan mengeluarkan para penerima zakat dari lingkaran kemiskinan. Bahkan seperti yang kita harapkan bahwa zakat harus mampu membangun kemandirian ekonomi bagi setiap penerimanya dan harus dinikmati dalam waktu yang panjang.

Dari segi SDM penitia zakat, Penulis berkeyakinan bahwa zakat sustainable dengan konsep teseng mampu direalisasikan. Karena menurut hemat Penulis hampir semua panitia zakat di Kabupaten Bone atau bahkan di Provinsi Sulawesi Selatan memiliki pemahaman mengenai teseng. Kemudian, karena dampaknya berkelanjutan artinya bahwa harus membangun pengawasan yang berkelanjutan pula. Sehingga secara manajemen harus dibentuk sebuah struktur organisasi panitia zakat tetap sesuai dengan kebutuhan,

Akhirnya zakat sustainable dapat menjadi solusi yang produktif dalam pengelolaan dana zakat. Dan dana zakat akan menjadi seperti bola salju yang terus bergulir kian lama semakin membesar. Tidak hanya membangun kemandirian dan mengeluarkan penerima zakat dari lingkaran kemiskinan, bahkan zakat mampu menjadi dana untuk menopang pembangunan infrastruktur dalam bangsa ini. Artinya bahwa zakat sudah mampu melampaui tujuan sosialnya, dan dinikmati oleh semua orang.

Muhammad Aras Prabowo
Staf Pengajar di Universitas Nahdatul Ulama Indonesia

Komentar

News Feed