oleh

OPINI : Sisa Dua Tahun Nawacita Memberi Bukti

-Opini-339 views
Sisa Dua Tahun Nawacita Memberi Bukti

DESEMBER 2017 akan pamit, sebentar lagi berbagai dinamika akan teruji. Apalagi soal pemimpin, menarik untuk kita raba dan turun langsung memberi solusi. Hari-hari tak boleh hanya kritik tapi harus juga di isi dengan pinangan prestasi. Narasi ini soal negeri, yang sudah tiga tahun mengabdi namun sangat sering berganti menteri.

Mari membuka surat kabar di tahun 2014 silam. Pada  mimbar utama semua mengastanamakan janji, suara sembunyi-sembunyi di beli. Awalnya di sana-sini rendah hati hingga manja pada partai koalisi. Hingga beberapa hari, terbuktilah bahwa banyak pejabat negeri terbukti korupsi.

BNNK BONE

Mari membahas korupsi, penyakit akut yang membanjiri sucinya ibu pertiwi. Berdasarkan data ICW, aparat penegak hukum saat ini menangani 1.306 kasus korupsi, dengan jumlah tersangka mencapai 3.018 orang. Sementara, total kerugian negara sebanyak Rp 7,8 miliar. Lalu, nilai uang suap yang terungkap sebesar Rp 717 miliar.

Sedang data lain ICW mencatat ada 78 kasus pungli yang melibatkan 182 orang. Namun ironisnya, 45 dari 78 kasus belum diproses hingga ke penuntutan di pengadilan.

Belum lagi dengan masalah yang mencekik yang lain. Menambah derita bulan solusi.

Nawacita adalah jalan menuju damai. Tempat janji disatukan dalam satu bentuk visi dan misi, awalnya jelas untuk memperbaiki negeri, Namum nyatanya belum mencapai hasil yang cukup baik.

Pada nawacita poin pertama pemerintahan kita ingin menghadirkan kembali negara untuk melindungi segenap bangsa dan memberikan rasa aman pada seluruh warga negara, melalui pelaksanaan politik luar negeri bebas aktif, keamanan nasional yang terpecaya dan pembangun pertahanan negara Tri Matra terpadu yang dilandasi kepentingan nasional dan memperkuat jati diri sebagai negara maritim.

Kemudian poin yang terakhir di antara sembilan poin ialah memperteguh kebinekaan dan memperkuat restorasi sosial Indonesia melalui kebijakan memperkuat pendidikan kebinekaan dan menciptakan ruang-ruang dialog antarwarga.

Nawacita menjadi kunci sejarah, tentang pengabdian per setengah dasawarsa dan pada separuh jalan perjalanan tak semua janji harus terealisasikan. Rakyat paham bahwa semua butuh waktu. Rakyat mengerti butuh anggaran banyak. Rakyat sayang pada semua pemimpinnya, pajak setiap tahun ia usahakan tepat waktu, dengan harap percepatan pembangunan berbuah kesejahteraan.

Sepanjang tahun ini, bangsa kita mendapat banyak hikmah dan salah satunya perjuangan dan keberagaman. Isu politik memanas berbagi pergantian hingga pemecatan mentri pun membuat orang-orang menggelengkan kepala.

Keadaan memamanas, orang-orang berkumpul menyerukan keadilan. Satu dihina, satu sudah meminta maaf dan tak mau disalahkan. Kacau. Hingga kekerasan dimana-mana, ketimpangan berkeliaran. Hingga berbagai kelemahan lembaga penegak hukum pun direncanakan, alasannya untuk menghabiskan anggaran.

Lalu sekarang pertanyaanya, yang habiskan anggaran KPK atau pelaku korupsi? Harusnya yang bangga dengan lambang Bhayangkara di dada harus bekerja sama dengan KPK untuk membasmi korupsi di negeri ini.

Hingga permasalahan ini masuk ke meja paripurna, pertarung kekuasaan antar lembaga saling berganti mengirimkan peluru. Satu sisi,  ada yang melemahkan KPK tapi terlihat jelas bahwa rakyat ingin tetap bersama KPK. Terbukti 2017 menjadi cacatan khusus bahwa salah seorang orang mandataris bangsa ini, berbaju orange dan sekarang bersarang jeruji tahanan.

2016 ada Irman Gusman dan 2017 ada Setya Novanto. Ketua DPD RI dan Ketua DPR RI dua tahun berturut rutan KPK tak pernah absen menangkan pemegang kekuasaan daerah dan rakyat di negeri ini.

Namun kita jangan pesimis, kita harus sama bekerja untuk pembangunan nawacita. Mencintai pemimpin kita sama sama saja mencintai negara kita.

Tiga tahun berlabuh. Pembangunan jalan tol secara merata di seluruh wilayah Indonesia, Pariwisata sumbang PDB tertinggi di Asia Tenggara dan Alat tangkap ikan diubah ramah lingkungan.

Sampai Kasus Lumpur Lapindo yang selama 8 tahun tidak selesai di era sebelumnya, oleh Jokowi hanya dalam kurun waktu 8 bulan rampung ganti rugi semuanya diterima warga Sidoardjo.

Begitu cintanya pemerintah terhadap bahari sehingga lahirlah Perpres No. 115 tahun 2015 tidak perlu ke Pengadilan lagi jika Satgas Illegal Fishing menangkap Kapal Asing Pencuri Ikan bisa langsung tenggelamkan.

Semua itu harus kita tepuk tangani. Hingga akhirnya, tersisa dua tahun lagi nawacita memberi bukti, merombak kembali niat dengan baik-baik.

Slogannya harus sesuai dengan tindakan. Tiga kali berulang, kerja,kerja dan sekali lagi kerja. Jangan ada berpangku tangan. Semuanya harus nyata.

Ahmad Takbir Abadi 
Esais Bugis di Bone

Editor     : Jumardi Ramling

Banner AFP Promosi Doktor M Awaluddin

Komentar

News Feed