oleh

La Isra: Bergeraklah, Selamatkan Masa Depan Bangsa

-Opini-410 views

Oleh: La Isra
*Sekretaris HMI Cabang Gorontalo 2011-2012


BONEPOS.COM, JAKARTA – Indonesia memiliki kekayaan yang melimpah dan jumlah penduduk yang banyak. Dengan potensi tersebut, Indonesia butuh pemimpin yang berani, tegas dan punya visi masa depan yang jelas. Pemimpinya harus teruji di lapangan, bukan semata populis tapi juga merakyat (bukan sekedar branding). Bahkan, merakyat saja kelihatannya belum cukup untuk menyelesaikan semua persoalan hari ini yang terlanjur multikompleks.

BNNK BONE

Persoalan kesenjangan ekonomi hari ini, di mana delapan puluh persen tanah seluruh negara dikuasai oleh satu persen warga negara, ini sebuah ironi bagi negara kita. Anak–anak banyak yang kurang gizi, mereka belum mendapatkan layanan pendidikan yang layak, ini menjadi pekerjaan rumah bagi siapa saja yang memimpin republik ini. Saya ingin merefleksi kembali ingatan kita tentang sejarah perjalanan bangsa ini. Kita punya sejarah panjang, dulu kita pernah dijajah oleh Belanda selama kurang lebih 350 tahun dan jepang 3,5 tahun, yang pada akhirnya tanggal 17 agustus 1945 kita merdeka.

Mereka betah tinggal di Indonesia sebab ada yang keuntungan yang mereka dapatkan dari penguasaan kekayaan alam di sini. Taksiran keuntungan Belanda dari menjajah Indonesia periode 1878 – 1941 (63 Tahun) berdasarkan data dari center for southeast Asian Studies Chulalongkorn university tahun 2012 sebesar 54 milyar gulden atau Rp. 5.174 triliun atau Rp. 66.599 triliun untuk uang sekarang. Dalam sejarah kita selalu diajarkan bahwa kita dijajah oleh bangsa asing tetapi sangat jarang menjelaskan kepada siswa tentang jumlah keuntungan yang didapatkan oleh penjajah.

Salah satu motif penjajahan suatu negara ke negara lain karena perebutan kekayaan alam. Saat ini, negara kita sedang mengalami gelombang penjajahan gaya baru. Pemerintah disandera dengan utang, bahwa untuk membangun infrastruktur harus mengutang. Tidak ada satu negara pun yang menolak Indonesia untuk mengutang kepada mereka. Catatan utang kita sampai dengan saat ini, menurut data statistik utang luar negeri bangsa Indonesia (SULNI) Bank Indonesia Agusutus 2016, lebih dari empat ribuh triliun rupiah. Ini yang harus kita waspadai. Sudah pasti ada yang diinginkan dari kita.

Kembali pada potensi negara kita bahwa negara kita adalah negara kaya, kita negara kepulauan yang ribuan pulau terbentang dari sabang sampai merauke, laut yang luas tetapi belum optimal pengelolaanya bagi sebesar–besarnya kemakmuran rakyat.

Kita butuh pemimpin yang secara tegas mengembalikan pasal 33 UUD 1945 yang asli (politik perekonomian berbasis pada ekonomi kerakyatan), bumi, air dan tanah digunakan sebesar–besarnya untuk kemakmuran dan dikelola oleh negara berdasar atas asas kekeluargaan; sebab di situlah inti dari kehidupan berbangsa dan bernegara yaitu persoalan ekonomi. Kalau ekonomi kita tidak berdaulat, maka, jangan mimpi negara kita bisa sejahtera, jangan mimpi rakyat kita bisa terlepas dari garis kemiskinan. Inilah sebetulnya persoalan mendasar kita. Fakta hari ini pengeloaan ekonomi diserahkan ke swasta, bahkan sampai pada sektor–sektor vital saja diserahkan ke pihak swasata.

Misalnya pengelolaan bandara, pelabuhan dan jalan yang hanya menguntungkan segelintir orang saja. Untuk membangun saja kita harus utang ke China, Singapura, dan beberapa negara lain, untuk mengerjalan sejumlah proyek itu bahkan kita mendatangkan pekerja dari luar negeri. Sehingga kita butuh pemimpin yang menginginkan kekayaan alam dikuasa sepenuhnya oleh negara dan digunakan sebasar–besarnya untuk kemakmurang rakyat.

Kita menyerahkan tambang negara kita dikelolah oleh asiang, pekerjanya juga dari asing, lalu rakyat kita dapat apa. Bayangkan pekerja kita harus mendatangkan dari luar, ini sebuah ironi negara besar seperti Indonesia yang kaya raya, potensi sumber daya alam yang melimpah, tetapi kita belum bisa mandiri, belum bisa berdikari semenjak kita merdeka pada tahun 1945 yang lalu. Sudah menjadi kewajiban kita sebagai anak bangsa untuk menentukan nasib dan arah bangsa ini di masa mendatang. Saat ini negara kita seolah kehilangan arah. Sudah saatnya membangun gerakan untuk menyelamatkan masa depan bangsa ini dari orang–orang yang ingin menghancurkan bangsa ini. Kita tidak boleh diam saja. Rebutlah kekuasaan secara sah dan konstitusional. Kalau bukan sekarang kapan lagi. Kalau bukan kita siapa lagi.

Jika kekayaan alam kita sudah dikuasai sepenuhnya, sektor perekonomian juga sudah dikuasai, sektor pemerintahan juga sudah dikuasai oleh asing, maka kita tidak berdaulat lagi. Saya berani katakan, bisa jadi kita diusir dari tanah kelahiran kita sendiri.

Negara ibarat manusia, kalau manusia darahnya banyak yang keluar maka berlahan pasti mati, begitu juga negara kalau kekayaan alamnya semakin banyak yang mengalir keluar negeri, maka negara itu berlahan pasti bangkrut.

Kita merindukan pemimpin yang mampu membawa rakyatnya untuk berdaulat di negerinya sendiri, mampu dan berani mengelola kekayan negaranya secara mandiri dan digunakan untuk rakyat itu sendiri. Pemimpin yang mampu dan berani mewujudkan keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.(*)

Komentar

News Feed