oleh

Otak dan Efek Puasa

-Opini-207 views

Malam Ramadhan 10

BONEPOS.COM – Tulisan berikut telah saya publikasikan setahun yang lalu dalam kolom ramadhan harian Cakrawala. Tulisan ini juga anda bisa temukan pada buku Ramadhan Usah Kau Pergi yang telah kami luncurkan. Berikut selengkapnya.

BNNK BONE

Agus Mustafa, seorang Pakar Nuklir dan penulis produktif dalam bukunya Untuk Apa Berpuasa menjadi bacaan ulang sebelum saya mengirim tulisan ini ke redaksi. Jujur, saya mendaras ulang. Termasuk merombak ulang tulisan yang telah saya terbitkan sebelumnya.

Agak lelah memang. Hari ini cukup berat. Tulisan ini pun terlambat saya kirimkan. Saya tak makan sahur semalam. Terlambat tidur penyebabnya. Sama ketika tulisan ini saya publis pertama kali setahun lalu, juga tak makan sahur.

Di buku Agus ini, saya menemukan kajian menarik terhadap puasa dan bagaimana menjaga keseimbangan fisik dan psikis. Diulasnya pernyataan Allah dalam Alquran, “Puasa lebih baik, jika engkau mengetahuinya.” Sejumlah asumsi ilmiah dikemukakan. Logis dan masuk akal. Sama halnya tatkala Isra dan Mi’raj dirasionalisasi dalam buku Terpesona di Sidratul Muntaha.

Yang lebih menarik, saat saya menemukan paragraf yang mengulas kerja otak. Saya tertegun, terpana kedahsyatan kerja otak yang begitu luar biasa. “Subhanallah, sungguh ciptaan Tuhan begitu sempurna,” begitu ucap saya dalam hati.

Kedua paragraf itu saya hubungkan dengan tulisan Taruna Ikrar, Adjunct Professor, University of California, USA dan Direktur Brain Circulation Institute of Indonesia, yang membedah bagaimana puasa memperbaharui struktur otak.

Otak disebutkan sebagai sistem organik di dalam tubuh manusia beroperasi bagaikan sebuah orkestra. Organ satu dan lainnya beroperasi saling bekerjasama dalam sebuah harmoni yang luar biasa mengagumkan, dengan ‘dirigen’nya adalah otak.“Otak adalah sistem kendali seluruh aktifitas yang dilakukan oleh seorang manusia.

Seluruh gerakan motorik, proses berfikir, ingatan, perasaan, respon terhadap dunia luar, sampai pada aktivitas di bawah sadar kita dikendalikan oleh otak. Semua itu dikoordinasikan dengan sangat canggih melalui mekanisme syaraf, hormonal, otot, organ dan berbagai fungsi jaringan,” Papar Agus.

Agus menegaskan bahwa seluruh aktifitas manusia akan kacau balau jika kerja otak tak maksimal. Menyetir misalnya, pasti akan menabrak sana-sini jika ribuan bahkan jutaan proses dalam tubuh kita tidak berjalan harmonis dan terkendali. “Itu baru menjalankan dan menghentikan mobil.

Bagaimana lagi jika harus memacu kendaraan di jalan tol dengan kecepatan tinggi? Selama proses menyetir mobil itu, seluruh organ dan jaringan tubuh bakal terlibat untuk mendukung keputusan-keputusan otak dari detik ke detik, dari menit ke menit berikutnya. Dan hebatnya, proses yang sangat panjang itu, hanya terjadi dalam orde detik!” tulis penulis kelahiran Malang ini.

Lalu bagaimana dengan puasa? Apakah ibadah ini memiliki efek ke otak manusia? Lalu seperti apa efek puasa ke otak itu merubah perilaku manusia untuk lebih baik setelah ia berpuasa? Taruna Ikrar, mantan Ketua HMI Cab. Makassar ini punya jawaban.

Saya mengutip sejumlah poin saja. Alumni Kedokteran Unhas ini menyatakan bahwa puasa bukan hanya bermanfaat dari segi perkembangan jiwa dan spiritual, namun lebih jauh dari itu juga bermanfaat pada kesehatan tubuh, khususnya proses regenerasi dan fungsi otak.

Otak adalah bagian paling kompleks pada tubuh manusia. Sebagai pusat berpikir, mengingat, inovasi, dan penafsiran terhadap fungsi panca indra, inisiator gerakan tubuh, dan pengendali perilaku. Otak pula sumber semua kualitas yang mendefinisikan kemanusiaan kita. Otak itu permata tubuh manusia yang sangat penting, karena menentukan semua aspek kehidupan kita sebagai makhluk biologis, dan makhluk sosial.

Pernyataan Dr. Johansen-Berg, et al (Neuron Journal, 2012) seperti yang dikutip Taruna menjelaskan, sinapsis di otak dapat berubah selama 24 jam yang terekspos pembelajaran dan latihan. Lewat puasa sebulan penuh, berdasarkan plastisitas, neurogenesis, dan fungsional kompensasi, jaringan otak diperbarui.

Terbentuk rute jaringan baru di otak, yang berarti terbentuk pribadi/manusia baru secara biologis, psikologis, dan fungsional.“Secara fisik, puasa mengurangi potensi stroke dan jantung koroner serta menjadikan manusia dengan pikiran lebih baik.

Dengan demikian fungsi dan manfaat puasa bagi kesehatan pada umumnya, dan fungsional otak pada khususnya, sangat besar. Sehingga dengan manfaat di atas, diharapkan masyarakat yang lagi berpuasa bisa mengambil hikmah,” tulis mantan Kepala Puskesmas Menteng ini.

“berpuasa itu lebih baik bagimu jika engkau mengetahui”

WallahuA’lam.
Arum Spink
#satukanhati

Komentar

News Feed